Apakah Berbaiat Kepada Khalifah yang Empat Bagian dari Iman ?

Adalah Ummawiyyin di Maghrib dan Andalusia yang pertama kali mengenalkan konsep Khulafa’ur Rasyidin atau Khalifah Yang Empat: Abu Bakar ra, Umar ra, Ustman ra dan Mu’awiyah ra—-bukan Ali ra.

Lantas berbagai pertanyaan mengemuka : Khalifa’ur Rasyidin sebagaimana yang dipahami kaum Suni apakah merupakan doktrin iman, doktrin politik atau doktrin politik yang diagamakan?

Bukankah Khulafa’ur Rasyidin juga hasil kompromi politik setelah sekian lama dari masa kenabian ?

Apakah dengan tidak bebaiat kepada Khulafa’ur Rasyidin dapat membatalkan iman ?

Tak ada eksplanasi yang bisa diterima semua—sebab masing-masing bersikukuh dengan pandangan dan perspektif nya sendiri-sendiri. Dari situlah konflik bermula dan terus terawat—

Dalam hal ke-khilafah-an umat Islam terpecah setidaknja menjadi lima :

Pertama: Kaum Syiah dan Rafidhah hanya mengakui Ali ra saja.

Kedua : Kaum Murjiah mengakui Abu Bakar ra dan Umar ra saja.

Ketiga: Bani Umayyah hanya mengakui Abu Bakar ra– Umar ra dan Ustman ra saja.

Ke empat : Umawiyyin mengakui Abu Bakar ra, Umar ra, Ustman ra dan Mu’awiyah ra sebagai Khulafa’ur Rasyidin

Ke lima: kelompok rekonsiliasi besar yang dipimpin okeh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (tahun 685/705 masehi) menggagas konsep Khulafa’ur Rasyidin yaitu Abu Bakar ra, Umar ra, Ustman ra dan Ali ra.

Inilah rekonsiliasi besar dengan membuang Mu’awiyah ra dan memasukkan Ali ra adalah kompromi yang sangat berat—yang kemudian mengubah pola pikir sebagian besar umat Islam meski tidak semuanya menerima. Saya menyebutnya kompromi politik bukan kompromi iman.

Peta politik berubah—kecuali kelompok Ali ra yang masih bersikukuh mempertahankan Ali ra sebagai satu-satunya khalifah yang legitimate pasca kenabian. Dan terus mengeras hingga melembaga pada instistusi aqidah dan fiqh. Harapan Umawiyyin mengakui Ali ra sebagai khalifah tak dibalas pengakuan kaum Syiah yang tetap tidak mengakui Abu Bakar ra, Umar ra dan Ustman ra —disitulah letak rumitnya—

Awalnya tiap kelompok saling ledek dan melaknat dalam khutbah-khutbah Jumat. Kaum Suni ortodox berikhtiar memasukkan nama-nama Khalifah Rasyidin ini dalam doktrin shalat tarweh dan Muqadimah Khutbah Jumat dilakukan untuk menyudahi konflik dan selisih umat Islam tentang politik —adalah bukti otentik doktrin politik yang dilembagakan.

Sebelumnya masing-masing kelompok saling mengkaferkan— sebuah masa yang sangat sulit. Kondisi politik umat Islam sangat rentan dengan konflik internal. Pembunuhan, persekusi menimpa siapapun, tak perduli ulama jika berbeda pandangan politik akan mengalami hal yang sama. Dalam berbagai kitab tarikh besar disebutkan demikian.

Kemudian terjadi rekonsiliasi besar-besaran yang digagas Khalifah Abd al-Malik ibn Marwan untuk merehabilitasi Ali ra –sejak saat itulah dikenal al Khulafa’ al-Rasyidun yang empat. Yang kita terima sampai hari ini sebagai bagian doktrin politik yang kita sepakati dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya.

Berbagai kitab referensi muktabar memang ada banyak varian menyikapi konflik dan peperangan para sahabat besar yang dijamin masuk surga ini—bagaimanapun menganggap ada sahabat yang fasiq karena sebab perbedaan politik sebagaimana sikap para pengikut fanatik masing-masing golongan adalah sikap yang tidak terpuji.’

Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah barangkali bisa mewakili jalan kompromi menyikapi banyak perbedaan dan permusuhan sahabat besar yang dijamin surga itu. Pandangan kompromistis menjadi sangat relevan ditengah pergolakan pemikiran akibat rancu dan biasnya berbagai informasi pada akhirnya kerendah hatian menerima perbedaan, diiringi sikap pasrah dan tawakkal kepada Allah Yang Maha Tahu, semoga bisa mengurangi kebencian akibat ketidaktahuan dan keterbatasan pandangan —-

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts