Cinta Suci Ali Bin Thalib Pada Fatimah Az-Zahrah

Sayyidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah ﷺ lahir 20 Jumadil Akhirah 5 tahun setelah kenabian atau 18 tahun sebelum Hijriyyah bertepatan dengan 27 Juli 606 M.

Sebagai putri Rasulullah ﷺ, Sayyidah Fatimah ra menjadi idola di masanya. Selain cantik dan cerdas, Fatimah merupakan pewaris keturunan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ sendiri begitu menyayangi dan mencintai Sayyidah Fatimah ra karena sifat zuhud yang dimiliki dan satu-satunya pengingat Rasulullah ﷺ pada Sang Istri Tercinta Sayyidah Khadijah ra. Dia adalah ibu dari Sayyidana Hasan ra dan Sayyidina Husain ra. Dia Permata hati Rasulullah ﷺ. Selain sebutan Fatimah, Rasulullah ﷺ memanggilnya dengan beberapa nama yang indah di antaranya, al-Batul (gadis yang terjaga), az-Zahra (putih cemerlang) ath-Thahir (yang suci) dan Muthahhir (yang disucikan). Dia salah satu dari wanita-wanita ahli surga.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah ra, sejumlah sahabat menemui Rasulullah ﷺ dan menyampaikan maksud mereka untuk menikahi Sayyidah Fatimah ra.

Tetapi, tak satupun lamaran diterima Rasulullah ﷺ. Termasuk lamaran dua sahabat terdekat Rasulullah ﷺ yakni Abu Bakar as-Shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra.

Dalam satu riwayat dikisahkan, Abu bakar ra dan Umar bin Khattab ra sedang duduk-duduk di masjid Rasulullah ﷺ. Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari juga ada bersama mereka. Mereka membicarakan Sayyidah Fatimah binti Rasulullah ﷺ.

“Orang-orang terkemuka telah melamarnya kepada Rasulullah ﷺ, tapi beliau mengatakan: Selain Fatimah masih kecil, urusannya aku serahkan kepada Allah ﷻ. Jika Dia menghendaki, Dia akan menikahkannya”. Sementara, Ali bin Abi Thalib ra belum pernah melamarnya dan belum pernah menyebut tentang Fatimah kepada Rasulullah ﷺ. Aku pikir, tidak ada yang mencegahnya melakukan itu melainkan kemiskinannya. Hatiku merasa yakin bahwa Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ hanya menahan Fatimah untuk Ali bin Abi Thalib ra. Jika yang mencegah Ali bin Abi Thalib ra untuk melamarnya adalah kemiskinannya, kita akan bantu dan tolong dia”. Ucap Abu Bakar ra Sa’ad bin Mu’adz.

Salman al-Farisi meceritakan, “ Lalu keluarlah mereka dari masjid untuk mencari Ali bin Abi Thalib ra. Namun mereka tidak menemuinya. Saat itu, Ali sedang mengairi kebun kurma milik seorang sahabat Anshar dengan upah menggunakan unta miliknya. Mereka pun pergi ke tempatnya.

Angin sepoi-sepoi nan lembut menyapa pelepah kurma yang kering dan membuatnya menari dengan gemulai. Tampak dari jauh, di sebuah kebun milik seorang sahabat Anshar, seorang buruh tengah bekerja. Dari dekat, jelaslah siapa orang itu. Ali bin Abi Thalib dengan susah-payah, dengan menggunakan untanya, mengangkut air untuk menyirami pepohonan kurma yang tinggi. Wajahnya dibasahi keringat yang mengucur deras.

Pemuda 25 tahun itu duduk untuk mengambil nafas baru dan merasakan udara segar. Dia bersandar di pohon kurma yang tinggi sembari melantunkan ayat al-Qura’an:

رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (al-Qashash: 24)

Kemudian datanglah Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra menghampiri Ali bin Abi Thalib ra.

“Wahai Ali! Tidak satu pun dari perkara yang baik, kecuali engkau yang paling cepat melakukannnya. Hubunganmu dengan Rasul dari sisi kekeluargaan, kedekatan, serta masa lalu bukanlah rahasia bagi semua orang. Dengan hal-hal tersebut, mengapa engkau tidak mendatangi Rasulullah ﷺ untuk meminang Fatimah?” Usul Abu Bakar ra.

Umar bin Kattab ra pun menyambung pembicaraan: “Para pembesar Quraisy menginginkan Fatimah sebagai isteri, namun Rasulullah ﷺ menampiknya. Aku berpikir, beliau melakukan hal tersebut disebabkan dirimu.”

“Wahai Ali! Mengapa engkau menjauhi perkara ini?”. Tanya Abu Bakar ra.

Ali bin Abi Thalib ra berbisik dengan mata berkaca: “Demi Allah ﷻ! Sesungguhnya Fatimah layak untuk diinginkan”. Jawab Ali bin Abi Thalib ra. “Namun, kemiskinanlah yang telah menghalangiku untuk mencoba memingnya. Aku tidak memiliki harta duniawi yang aku simpan kecuali satu pedang dan baju besi”.

Wallahu A’lamu

Referensi:

📖 Ath-Thabaqati al-Kubra| Ibun Sa’id| Juz 8 Halaman 18

📖 Sab’iyati fi Mawa’idzi al-Bariyat| al-Hamdani Halaman 130

Related Posts