Gus Dur Mewarisi Literasi Ulama

Banyak cerita beredar, bahwa semenjak kecil Gus Dur sudah gemar membaca, mulai dari kitab kuning hingga buku berbahasa Inggris. Kegemaran dan kebiasaan itu dapat meningkatkan kecepatan membacanya, hingga konon ceritanya; perjalanan pesawat dari Jakarta – Surabaya dapat melahap buku satu rak.

Setelah fungsi indera penglihatannya jauh berkurang tidak lagi mampu membaca. Gus Dur masih tetap membaca dengan “audio book”.

Ternyata kecepatan membacanya itu mewarisi para Ulama’ terdahulu.

Al khatib Al Baghdadi (463 H), ulama yang masyhur dengan kecepatan membacaannya. Diceritakan dalam sebuah riwayat membaca shahih Al Bukhari hanya dalam tiga majlis. Dua majlis pertama dibaca mulai setelah Maghrib selesai menjelang subuh. Majlis ketiga dimulai dari waktu Dzuha sampai menjelang maghrib. Dilanjut kembali setelah Maghrib dan khatam menjelang subuh.

Dilain waktu, Al khatib membacakan shahih Al Bukhari pada Karimah binti Ahmad hanya dalam lima hari.

Kepakaran itu diakui dan dikagumi oleh Al hafidh adz dzahabi dan Al hafidh Ibnu hajar.

Komentar Al hafidh adz dzahabi : “ini sesuatu yang saya tidak tahu seseorang yang mempunyai kemampuan seperti itu di zaman kita”.

Komentar Al hafidz Ibnu hajar: bacaan Al khatib itu paripurna dari segi kebenarannya, keelokannya, dan sampai pada pendengarnya.

Sulthon Ulama’, Izzuddin Ibn Abdissalam (660 H). Konon ceritanya membaca kitab Nihayah Al mathlab (40 jilid) hanya tiga hari (mulai hari Rabu khatam hari Jum’at).

Komentar Sirajuddin Al bulqini: “tidak mustahil, karena Syaikh Izzuddin Ibn Abdussalam sudah tidak mempunyai keisykalan lagi, dan tidak butuh berfikir panjang”.

Semoga kita bisa meneladaninya.

Related Posts