Harus Sanggup Berdebat Bila Ingin Berargumen Beda

Tidak mau berdebat itu kadang baik sebab secara umum berdebat bisa berdampak mengeraskan hati. Namun bila ingin menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan orang lain atau ingin mengkritik pendapat orang lain, maka wajib mau berdebat mempertahankan argumennya.

Karena itulah, setiap penelitian mulai skripsi, tesis, disertasi hingga artikel ilmiah harus dipertanggung jawabkan di meja diskusi. Diskusi ini ya berdebat, bukan cuma cerita “ini pendapat saya” lalu bilang “terserah kalau kamu berbeda yang penting saling mengerti”. Tidak begitu, diskusi bukanlah curhat. Kalau curhat sih memang cukup minta didengerin dan dimengerti tak perlu disanggah. Tapi pendapat ilmiah harus berani dipertanggung jawabkan secara ilmiah pula.

Betapa anehnya bila misalnya ada yang berkata:

– Menurut saya yang dibilang wajib itu sejatinya tidak wajib. Mereka yang mewajibkan itu tidak tepat. Tapi no debat ya!

– Menurut saya itu pandangan yang terlalu literal. Fikih Itu harus kontekstual sehingga kesimpulannya tidak begitu. Tapi saya tak mau berdebat.

– Tindakan itu salah, sesat dan tak berdasar. Menurut dalil yang benar adalah begini seharusnya. Tapi maaf saya tak mau debat.

– Ada banyak interpretasi soal ini dan tak boleh ada yang merasa paling benar. Kalau sudah di-judge duluan tanpa mau diskusi ya percuma diterangkan. Kita butuh saling mengerti, tapi tak perlu berdebat.

Ah… Kalau tak siap ucapannya dikritik dalam perdebatan seharusnya diam saja sejak awal. Dunia ilmiah bukan tempat orang curhat yang maunya hanya dimengerti tanpa siap diuji.

Related Posts