Humor Kiai Wahab: Naik Sepur Memperpanjang Umur

Gen milenial dan gen centennial pasti tidak merasakan naik sepur kayak saat dulu yang untel-untelan. Saya dulu beberapa kali ke Jakarta naik sepur ekonomi. Keadaannya penuh sesak, lorong-lorong kereta dipenuhi orang, hingga di bawah kursi digunakan untuk berbaring tidur. Maka kalau mau ke toilet di sepur, lewatnya harus banyak permisi, belum lagi sampai di toliet, airnya habis, dan pernah juga saya temui dibuat tempat meletakkan ayam-ayam oleh penumpang.

Anda bisa bayangkan, pengalaman saya itu sekitar tahun 2000-an, bagaimana kalau ditarik ke belakang tahun 1950-an? Bayangkan…ya kamu bayangkan, tapi jangan mengkhayal ya Mblo hehe…

Kiai Wahab Chasbullah seorang tokoh besar biasa pulang pergi Jakarta-Jombang menumpang sepur. Hingga pernah saat di sepur kejatuhan koper yang akhirnya menjadikannya tidak bisa melihat (saya dapatkan kisah ini dari Mbah Djum istri Mbah Supadi (sopir Kiai Wahab), juga ada di buku KH. Saifuddin Zuhri “KH. Abdul Wahab Chasbullah: Bapak dan Pendiri NU”.

Dalam kondisi naik sepur yang tidak senyaman sekarang, Kiai Wahab menikmati dan mensyukuri demi perjuangan NU, dan mengajar santri. Saking seringnya naik sepur, Kiai Wahab malah membuat guyonan bahwa malaikat akan “repot” saat mau mencabut nyawanya. Alkisah, Nyai Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Wahid Hasyim pernah mendengar Kiai Wahab Chasbullah berkelakar: “Malaikat jadinya susah mencari aku, Ketika dicari di Jakarta, ternyata tidak ada, karena sudah balik ke Jombang, Malaikat langsung menuju Jombang, ternyata di sana juga tidak berjumpa, karena masih di kereta api, masih dalarn perjalanan.” (dinukil dari karya Dr. Sururin tentang Bu Nyai Mahfudloh Aly Ubaid binti KH. Wahab Chasbullah).

Masih terkait kisah JJ (Jakarta-Jombang), kata Kiai Saifuddin Zuhri pernah menemani Kiai Wahab dari Jakarta ke Jatim, dan tentu mampir ke Jombang. Sesampai di Jombang, Kiai Wahab yang 34 tahun lebih tua dari KH Saifuddin Zuhri, tidak istirahat, tapi malah memperbaiki jendela dan petromax yang error. Sembari mengambil petromax untuk diperbaiki, beliau nyeletuk, “Ini petromax nggak beres juga kerjanya, kayak kerja politik(us)-sontoloyo di ibukota.”

Penulis: Dr KH Ainur Rofiq Al Amin, Tambakberas Jombang. Sebelumnya dimuat di Bangkit Media

Related Posts