Ibu Nyai Romlah Bangkalan, Wali Perempuan Penuh Karomah

Menyebut nama Nyai Romlah (ibunda KH. Abdullah Schal) binti KH. Imron bin Syaikhona Kholil Bangkalan, mungkin tak banyak orang yang mengenalnya, namun ketika menyebut nama Syaikhona Kholil, tentu banyak umat islam di Nusantara yang tahu.

Tidak diragukan, beliau adalah seorang ulama’ yang di masa mudanya tak kenal lelah dalam menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya sehingga dikemudian hari beliau menjelma menjadi pencetak ulama’ dan waliyullah.

Para santrinya tersebar mulai dari ujung pulau Madura hingga ke ujung barat pulau Jawa, memangku pesantren di daerahnya masing-masing, sebutlah misalkan KH. Hasyim Asy’ari pengasuh pondok pesantren Tebuireng, Jombang sekaligus pendiri NU, KH. Abd. Karim pendiri dan pengasuh pondok pesantren Lirboyo, sebuah pesantren yang terletak di daerah Kediri, yang dibanjiri ribuan santri dari berbagai daerah, KH. As’ad Syamsul Arifin Asembagus Situbondo dan lain sebagainya.

Nyai Romlah adalah salah satu cucu Syaikhona Kholil, nama ayahnya KH. Imron bin Syaikhona Kholil. Beliau merupakan putri tertua dari tujuh bersaudara. Adik adik beliau adalah: Nyai Nadhifah, KH. Makmun Imron, KH. Amin Imron, Nyai Na’imah, Nyai Arifah, Nyai Jamaliah dan Nyai Aminah. Mengenai tahun dan tanggal lahirnya tak ada yang tahu secara pasti, baik dikalangan para alumni ataupun masyarakat luas yang pernah hidup satu zaman dengan beliau. Sangat disayangkan, sehingga tak dijumpai satupun tulisan sejarah tentang beliau yang pernah menulis tahun kelahirannya.

Nyai Romlah dikenal sebagai wali wanita dari Bangkalan. Berangkat dari sebuah adagium tentang wali, bahwa tidak ada yang dapat mengetahui kewalian seseorang kecuali seorang waliyullah. Nyai Romlah diketahui status kewaliannya, juga lewat perkataan seorang waliyullah.

Pada suatu hari ketika KH. Kholil Sidogiri yang sudah dikenal dengan kewaliannya ditanyakan oleh seorang tamu perihal wali perempuan.

“Apakah ada Wali perempuan, Kyai.?”

Secara spontan Kiyai Kholil menjawab; “Ada, Ibunya Ra Dulla.”(yang dimaksud adalah Nyai Romlah.)

Sejak saat itulah beliau dikenal kewaliannya, bahkan salah satu karomah beliau ada yang mirip dengan karomah kakek beliau Syaikhona Kholil.

Suatu waktu ketika ada Haul di Demangan, Nyai Romlah hanya menyiapkan tiga potong ketupat untuk dijadikan suguhan kepada para tamu, salah satu santri bernama Hafidz yang ikut membantu menyiapkan hidangan merasa ganjil dengan hidangan yang sedikit itu, padahal saat itu undangan yang datang kurang lebih Seratus orang, Hafidz pun merasa panik, dalam pikirannya jelas hidangan yang hanya tiga potong itu tidak akan cukup.

Namun Hafidz tidak berani untuk bertanya dan mengusulkan untuk menambah ketupat yang akan dibuat soto ayam itu, dia hanya memutuskan untuk melakukan apapun yang akan diperintahkan oleh Nyai Romlah. Waktu itu Nyai Romlah menyuruhnya untuk mengiris ketupat dan meletakkannya di piring, dengan cekatan Hafidz mengiris ketupat bersama Nyai Sumtin yang merupakan menantu Nyai Romlah dan Nyai Romlah pun juga ikut mengirisi ketupat.

Piring terus berganti piring, Hafidz terus mengiris ketupat tanpa henti, hingga pada akhirnya dia dibuat terperangah dan Takjub. Meski terus diiris, ketupat itu tidak kunjung habis. Sampai semua tamu undangan kebagian semua, ketupat masih ada sisanya.

Karomah Nyai Romlah ini mirip dengan karomahnya sang kakek yaitu Syaikhona Kholil, ketika beliau masih menuntut ilmu beliau pernah disuruh gurunya untuk menyiapkan gula Madura dan menyuruh santri yang lain untuk mengambilnya dikamar beliau, gula yang katanya sedikit itu tidak habis – habis meski berkali-kali diangkut oleh santri dari kamarnya.

Wallahu alam bissowaab..
Laha al-Fatihah……

(Amrullah/source selengkapnya bisa dibaca di BangkitMedia)

Related Posts