Imlek: Menyimak Kembali Harmonisasi Etnis Tionghoa dengan Santri

Membincang Etnis Tionghoa di Indonesia dulu maupun saat ini, seakan tidak terlepas dari sasaran kebencian. Narasi kebencian sedemikian liar menjadi gelombang yang menghantam kehidupan mereka. Etnis Tionghoa pada masa orde baru pernah dipasung dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Adat istiadat China dianggap sebagai hambatan proses asimilasi. Ibadah dan perayaan harus dilakukan secara internal, tak boleh mencolok, dan bahkan perlu izin khusus.

Selain itu Gerakan etnis Tionghoa juga terbatas. Mereka harus menggunakan nama Nasional tidak boleh menggunakan nama asli, tidak boleh bekerja di bidang militer, keamanan, termasuk politik. Sehingga banyak dari mereka yang akhirnya memilih dunia perdagangan sebagai alternatif perekonomiannya.

Walaupun Gus Dur ketika menjadi presiden pernah membuka belenggu yang dipasang orde baru itu dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor  6 Tahun 2000, akan tetapi sasaran kebencian dan intimidasi kepada etnis Tionghoa-pun seakan tidak pernah berhenti. Semisal sekarang ini karena faktor politik ada dari sebagian umat Islam telah membenturkan pemahaman bahwa misalnya keturunan Arab adalah penerus ajaran Nabi, China adalah aseng penguasa perekonomian, perdagangan, yang selalu memeras pribumi.

Okelah, setiap orang boleh berargumen sesuai dengan yang diyakini dan juga boleh memberiakan sematan negatif kepada saudara-saudara kita etnis Tionghoa, tapi kita juga harus melihat fakta sejarah, bahwa etnis Tionghoa yang mempunyai ciri fisik berkulit putih, hidung pesek dan bermata sipit ini, dulu maupun sekarang sebenarnya hidup harmonis dan mesra tanpa sekat berdampingan dengan  umat Islam di Indonesia.

Sunan Gunung Jati, bisa menjadi bukti sejarah keharmonisan antara kaum santri dengan kaum sipit ini, ia pernah menikah dengan Nyi Ong Tin putri kaisar China, bahkan kemesraan Sunan Gunung Jati  dengan etnis Tionghoa tersebut diaplikasikan pada bangunan makamnya. Sekilas, bangunan makam waliyullah salah satu dewan wali songo ini berkombinasi tiga model arsitetkur. Yakni arsitektur Cina, Arab dan Jawa.

Kalau ada yang masih belum yakin bahwa kaum santri dengan kaum sipit ini benar-benar hidup harmonis, bisa disimak cerita masyhur tentang keharmonisan mbah Yai Musthofa Bisri (Gus Mus) dengan warga Tionghoo. Ceritanya begini, suatu hari seorang warga Tionghoa beragama non muslim sowan ke kediaman Gus Mus, kiyai dan juga penyair asal Rembang Jawa Tengah. Warga Tionghoa non muslim tadi masih tetangga sekaligus sahabat dekatnya Gus Mus.

Kemudian Warga Tionghoa berkata “Pak Kiai, ayah kami sore ini telah meninggal, tadi kami sekeluarga telah sepakat untuk meminta tolong pak kiai untuk menshalati jenazahnya”. Gus Mus tanpa pikir panjang, “Ooo ya, nanti saya datang!” Lantas Gus Mus memanggil santri santrinya agar segera mendatangi rumah duka dan mendekati jenazah. “Ayo segera kita sholat!” dawuh Gus Mus. “Shalat apa, Kiai?  Bukankah menyalati orang non muslim itu haram kiai?”  tanya santrinya. “Shalat ashar ta ya” Gus Mus beri penjelasan.

Tanpa ribet, jenazah dipindah ke belakang lalu shalat, setelah itu pertanyaan munccul dari si Tionghoa “ biasanya menshalatkan jenazah itu jenazahnya ditaruh di depan, lha ini kok ditaruh di belakang?” dengan enteng Gus Mus menjawab “ yang ditaruh di depan itu sudah tau jalannya, lha ayah sampean belum tau jalannya maka ditaruh di belakang”, kemudian si Tionghoa sambil mringis berkata “o gitu siap Yai trimakasih”.

Fakta sejarah dan cerita yang selalu membuat kita mesem ketika kita baca ulang ini cukuplah menjadi bukti tentang kemesraan dan keharmonisan umat Islam dengan saudarnya Tionghoa. Maka dari itu di tahun baru Imlek ini mari kita sudahi polemik Arab dan China. Bagaimanapun Arab dan China masing-masing mempunyai jasa dalam kemajuan negari ini. Mereka adalah bagian tidak terpisahkan dari sejarah budaya dan kemerdekaan Indonesia. Gong Xi Fa Chai.

Related Posts