Ini Doa Guru Sekumpul Agar Mata Selalu Sehat Sampai Tua

KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (akrab disapa Guru Sekumpul) selalu istiqomah dalam mengajar santri dan masyarakat. Seluruh hidupnya diwakafkan untuk kepentingan umat. Semua tamu dilayani, diberikan petunjuk, dan disapa dengan kasih sayang.

Sangat banyak persoalan yang dihadapi umat, salah satunya adalah terkait kesehatan mata. Abah Guru Sekumpul memberikan doa dan amaliyah khusus kepada kita semua.

Kalau kita mendengarkan kalimat adzan, sampai pada kalimat:

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

Maka sunnah hukumnya untuk mengucup kedua ibu jari sambil membaca:

مَرْحَبًا بِحَبِيْبِيْ وَقُرَّۃِ عَيْنِيْ مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ ﷺ

“Marhaban bihabibi wa qurroti ‘aini muhammadi bni ‘abdillah shollallahu ‘alaihi wasallama.”

Kemudian kedua ibu jari diusapkan kedua mata sebanyak 3x /1x.

Fadhilahnya adalah insya Allah mata kita akan selalu terang dan jelas melihat sampai tua dan juga tidak akan sakit mata dan juga tidak akan terkena segala penyakit mata.

Asal mulanya doa dan amaliyah ini adalah sewaktu Nabi Adam AS di surga, di pintu depan surga ada tulisan:

لَا اِلٰهَ اِلّاَ اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ

Maka Nabi Adam penasaran, kemudian bertanya: “Wahai Allah, siapa itu Muhammad yang ada tulisan di pintu surga?”

Kemudian dijawab Allah: “Itu adalah kekasihku. Nuurnya masih berada di sulbi kamu wahai Adam.”

Kemudian Nabi Adam meminta kepada Allah: “Maukah Engkau perlihatkan kepadaku?”

Setelah itu, Allah meletakkan Nuur itu di dahi Nabi Adam.

“Hamba masih belum bisa melihat yaa Allah,” kata Nabi Adam.

Kemudian Allah meletakkan Nuurnya Muhammaddi kedua kuku ibu jari Nabi Adam. Lalu Nabi Adam AS melihat Nuurnya Rasulullah saw di kedua kuku ibu jari Nabi Adam kemudian beliau kecup kedua ibu jari tadi dan langsung mengusapkannya ke kedua mata beliau.

Semoga berkat kita cinta kepada Abah Guru Sekumpul, dosa-dosa kita diampuni Allah ta’ala. Aamiin…!!!

*Ini adalah catatan pengajian di Musholla Ar-Raudhah Sekumpul hari Ahad sore ba’da Ashar tahun 2002. Sumber selengkapnya bisa dibaca di bangkit media

Penulis: Muhammad Zainuddin bin H Abdurrahman, santri Guru Sekumpul.

Related Posts