Ketika Kiai Pesantren Dikelabui Gus Dur

Di era orde baru, saat Menag-nya Bapak Tarmizi Taher: ada proyek mencetak Al Qur’an terjamah yang dibiayai oleh badan wakaf pemerintah Saudi. Namun ada indikasi proyek itu disalahgunakan oleh Depag.

Indikasi itu tercium oleh beberapa tokoh termasuk Gus Dur sendiri.

Lalu beberapa saat kemudian Gus Dur menyatakan di Media; bahwa tarjamah Al Qur’an cetakan Depag itu ada yang salah. Harus dikoreksi oleh Kiai-kiai pesantren terlebih dahulu.

Akhirnya pernyataan itu direspon oleh pihak Depag, dan Al Qur’an tarjamah tersebut dibagikan ke pondok-pondok pesantren se Antero negeri. Dan para Kaia- kiai pesantren mengoreksi secara serius.

Ternyata tidak ada yang salah.

Pada akhirnya Gus Dur berseloroh: memang tidak ada yang salah. Kalau tidak begitu, pondok-pondok pesantren tidak bakalan mendapat sumbangan Al Qur’an tarjamah dari Depag.

Itulah salah satu contoh gaya perpolitikan Gus Dur.
“Pola dan tindakannya berbeda dengan niatan dan tujuannya”.

Tujuannya untuk menggagalkan indikasi penyelewengan. Tindakannya membagikan ke pondok-pondok pesantren dengan dalih ada yang salah. Berbeda bukan?.

Disinilah sulitnya menghakimi ‘perilaku dan tindakan’ seorang Gus Dur semata.

Sehingga para kiai -yang obyektif terhadap Gus Dur- menyatakan: Tidak bisa tindakan Gus Dur dihakimi secara hitam putih tanpa melihat tujuan (latar belakangnya). Karena Gus Dur seorang tokoh yang membawa gerbong NU dan Pesantren, serta ummat.

Dengan demikian, sikap terbaik ber-husnudzon kepada Gus Dur.

Related Posts