KH. Maftuh Basthul Birri : Penjaga Wahyu Yang Faqih

Mungkin zaman sekarang kita akan kesulitan mendapati seorang Kyai Qur an seperti Abah Yai Maftuh . Ulama’ yang membidangi Al-Qur an kompleks dengan kedalaman ilmu tajwid,qiro-ah sampai ilmu penulisan Al-Qur an. Banyak yang belum tahu bahwa beliau sebenarnya sangat ‘alim dalam bidang fiqih.

Dahulu ketika saya baru masuk Lirboyo pondok induk,banyak teman-teman aktifis bahtsul masa-il dan senior bercerita bahwa LBM dahulu pernah mati suri,kemudian dihidupkan lagi oleh Abah Yai Maftuh. Bahkan sekelas Yai Azizi Hasbulloh dan macan Lirboyo lainnya adalah murid privat Abah Yai. Memang selama saya menjadi santri beliau,tidak pernah menceritakan hal ini,tapi anda bisa temukan di otobiografi beliau.

Mungkin kitab fathul mu’in adalah rujukan utama beliau, bahkan kalau saya agak asing dengan apa yang dilakukan Abah Yai dengan umumnya masyarakat maka saya coba lihat di kitab fathul Mu’in pasti ketemu. Contoh tiada adzan isya’ di pondok kami,maka keterengannya akan anda temukan di Mu’in. Tidak hanya fiqh tapi ilmu lainnya begitu komplit beliau kuasai.

Tak jarang ketika pagi ceria,sering kali beliau mengutip nadzom alfiyyah dan juman. Saya yang waktu itu masih belajar juman sampai takjub karena cuma hafal gak ngerti isi kandungannya.

Dalam ilmu tafsir jangan tanya,pernah beliau memanggil saya di kamar beliau, berbincang lebih dari satu jam,menyelesaikan masalah saya dengan mencocokkan dengan ayat yang belum pernah saya krentekkan isinya. Wong urip kwi karek nyocokne karo Qur an kog bingung hehehe. Beliau juga begitu menguasai tasawuf dengan menerbitkan matan hikam dan mengarang kitab auliyail khomsin.

Tapi dibalik tabahur (nyegoro) di berbagai bidang ilmu,beliau lebih memilih menekuni mengajar Al-Qur an. Ini karena beliau mengidolakan sosok Syech Abu Abdur Rahman As-Sulami dan berkeyakinan bahwa Al- Qur an adalah pemberkah terbesar untuk umat ini. Beliau sering sampaikan ini, Syech As-Sulami adalah Ulama’ kufah yang lautan ilmunya,tapi beliau memilih menekuni mengajar Al-Qur an sampai akhir hayatnya selama 40 tahun di masjid Kufah. Saking terinspirasinya beliau,suatu ketika di gubug Khufadz Lirboyo tahun 2013 (kalau tidak salah) satu gedung khufadz dibuat hening dengan dhawuh beliau. “Alhamdulillah aku wes ngajar Qur-an 40 tahun wes koyo Syech as-sulami,dilut engkas aku wayah e sowan Pengeran”. Banyak santri yang meneteskan air mata ketika itu.

Begitulah manhaj perjuangan Syaikina,kita sebagai murid yang mengaji pada beliau,kita mengikuti garis perjuangan beliau. Karena memang pemberkah terbesar adalah Al-Qur an. Kita gapai keberkahan yang agung itu dengan memprioritaskan mengajar Al-Qur an.

*Ditulis di Ponorogo 8 Desember 2019

Related Posts