06/04/2020

KH. Nawawie bin Noer Hasan dan Buah Rambutan dari Surga

Saat itu, di siang bulan suci Ramadhan Nahrawi panggilan akrabnya. Sowan pada KH. Nawawie bin Noer Hasan bin Noer Khatim. Nahrawi adalah seorang Alumni Santri Sidogiri senior, khadam dan sekaligus santri kepercayaan KH. Nawawie bin Noer Hasan.

Seperti biasa, Nahrawi bila sedang musim panin padi, singkong, buah-buahan dan lain-lainnya pasti sowan ke Sidogiri membawa sebagian paninnya untuk diberikan pada Sang Guru (KH. Nawawie bin Noer Hasan). Pada waktu itu Nahrawi membawa sepikul ketela kayu atau singkong yang baru saja dipaninnya. Sesampainya di Dalem (kediaman Kyai), Nahrawi dipersilahkan duduk di ruang tamu.

“Dekremah Kabereh! Beres yeh? (Bagaimana kabarmu, sehat?)” Tanya Kyai Nawawie dengan bahasa Madura.

Nahrawi menjawabnya dengan santun “Enggi Alhamdulillah! Abdinah sae Kiaeh.. (Iya Alhamdulillah saya sehat Kyai …”.

“Apah seegibah been juah Wi?(Apa yang kamu bawa itu Wi?” Tanya Kyai Nawawie.

“Ka’dintoh Puhung Kiaeh! Abdinah ketempaan molong puhung e tekgel (Ini Singkong Kyai, saya ketepatan panin singkong di kebun)”. Jawab Nahrawi.

“Iyyak Wi! Rambutan rassain (Ini Wi! buah Rambutan, coba kamu cicipi) “. Hatur Kyai Nawawie.

Nahrawi hanya diam saja tidak berani menjawab saat Kyai Nawawie menyuguhkan buah Rambutan di atas piring yang ada dihadapannya.

“Setiah kan bulan pasah, panapah Kiaeh makon singkok adek er rambutan? (Sekarang bulan puasa, kenapa Kyai meminta saya makan buah Rambutan?)”. Guman Nahrawi bingung, antara dirinya yang berpuasa dan perintah Kyai Nawawie memakan buah Rambutan.

Belum sempat kebingungan Nahrawi terjawab, Kyai Nawawie dawuh kembali:

“Ella kakan Rambutan jiah Wi, manis jiah! Engkok lemareh ngakan gellek (Ayo makan saja buah Rambutan itu Wi, rasanya manis. Saya tadi sudah memakannya”.

Sontak, Nahrawi tambah bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuat dan dikata.

“Abdinah apasah Kiaeh! (Saya lagi puasa Kyai)”. Jawab Nahrawi memberanikan diri.

Kyai Nawawie terdiam sejenak, lalu berkata: “Magih engkok ye apasah kiyah Wi, tapeh Rambuten jiah tak mebettal lagi dek pasah kerenah gellek enggok metek darih Suargeh (Saya juga berpuasa Wi, tapi buah Rambutan itu tidak dapat membatalkan puasa kerena buah Rambutan itu saya petik dari surga yang petik”.

Nahrawi tertekun sekaligus takjub mendengarnya sembari dengan riang gembira mengambil satu buah dari buah Rambutan yang ada di hadapannya.

Waktu pun berlalu, kisah Nahrawi dan KH. Nawawie bin Noer Hasan seakan terlupakan tapi tidak bagi seorang Nahrawi yang sangat beruntung bisa memakan buah Rambutan surga. Konon pasca Nahrawi memakan buah Rambutan itu, rasa manis dari buah Rambutan pemberian gurunya-Kyai Nawawie tidak pernah hilang dari bibir Nahrawi hingga ajal menjemputnya.

Waallahu A’lamu

[Dikutib dari dawuh Mas Hamada Sahrullah bin Kh. Abd. Alim saat pengajian IASS, Gelegge Arosbaya Bangkalan 25 Januari 2019 M].
_________________________

Mas Hamada Syahrullah sempat memberi catatan mengenai kisah ini, yang intinya:

“Seseorang tidak akan bisa memakan buah dari surga di dunia, kecuali dipastikan kalau dia adalah ahli surga dan KH. Nawawie bin Noer Hasan membagikan buah Rambutan surga pada Nahrawi tiada lain Kyai Nawawie berharap agar Nahrawi-Santrinya bisa bersama Beliau kelak di surga”.

Semoga kita juga bisa diakui santri Beliau hingga bisa bersama Beliau kelak di surga Allah SWT. Amin.

Abdul Adzim

Lahir di Surabaya. Domisili Bangkalan Madura. Alumni Pondok Pesantren Sidogiri. Aktif mengajar di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

View all posts by Abdul Adzim →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *