Meneladani Kisah Perjalanan Cinta Khadijah dan Rasulullah Saw

Sejarah mencatat kehidupan Nabi Muhammad Saw dari dilahirkan hingga ia wafat. Tak terkecuali, perjuangannya kala menyebarkan risalah Allah. Ia tak luput dari dukungan wanita yang teramat kasih sayang dan pengorbanannya.

Wanita yang akhirnya menjadi pendamping dunia dan akhiratnya ini pernah mengalami masanya sebagai gadis yang berbeda dengan lainnya. Ia bukanlah penyuka senja seperti kebanyakan orang. Gadis ini menyukai matahari terbit. Kegemarannya adalah menghadap ke arah timur menunggu warna kuning menyembul ufuk. Bibirnya akan tertarik tipis, membentuk bulan sabit di wajahnya. Mengagumi betapa pencipta jagat raya begitu indahnya menciptakan suasana pagi hari.

Kesukaannya menanti saat terbit bukan berarti ia adalah penyembah Matahari. Ia penganut agama samawi. Agama yang hanya mempercayai satu Tuhan, berbeda dengan masyarakat Quraisy pada umumnya. Gadis ini adalah Khadijah, yang kelak menjadi permaisuri Rasulullah Saw. Beberapa hari lagi ia akan menikah dengan putra bangsawan yang terkenal dengan akhlak mulia. Sebuah pernikahan mewah telah digelar dan menjadi kebahagiaan kaum bangsawan Quraisy.

Khadijah menganggap menikah adalah saatnya ia membaktikan diri kepada seorang laki-laki yang bersedia menjadi penjaganya. Laki-laki yang menjaga tubuh dan hati istrinya. Khadijah merasa hidupnya sudah sempurna, hingga kesempurnaan itu pelan-pelan memuai. Ia ditinggal untuk selamanya oleh sang suami tercinta yang harus kembali keharibaan-Nya.

Khadijah yang kini hidup bersama dua anaknya, ditawari menikah kembali oleh ibunya. Seperti ini lah jawaban Khadijah. Sekali ia mengambil keputusan, maka akan sangat sulit untuk digoyahkan. “Aku percaya pilihan ayah. Ayah pasti akan memilihkan yang terbaik untukku, seperti saat Ayah memercayakan aku kepada Abu Halah” (hlm. 14)

Menikahlah Khadijah untuk yang kedua kalinya. Namun, pernikahan itu juga harus berakhir dengan meninggalnya suami keduanya. Ia pun dianugerahi seorang anak dari pernikahan keduanya. Kini, Khadijah tinggal bersama tiga orang anaknya.

Bagi Khadijah, Matahari terbit laksana harapan. Harapan untuk mendapatkan satu semangat baru yang akan mengobarkan impian. Harapan untuk hidup yang lebih bahagia meski kadang kenyataan tak semanis harapan dan harus lama dalam penantian. Kini, kehampaan mengalir dalam dirinya, tak ada lagi yang membanjirinya dengan cinta. Khadijah memutuskan untuk fokus pada ketiga anaknya dan perdagangan yang kini berada di tangannya.

Setiap jiwa yang terisi harapan akan membuatnya semakin hidup. Kehidupan di dunia ini terus berjalan. Selalu ada yang datang dan pergi. Khadijah masih mencintai pagi. Sambil menyesap susu dari cawannya pelan-pelan, ia memikirkan satu nama yang tiba-tiba saja mampu menghangatkan hatinya, walau pertemuan belum pernah ada. Ia hanya mendengar dari penuturan beberapa orang yang membuatnya penasaran.

Suatu saat laki-laki itu mendatangi Khadijah dan menjadi pekerja yang membawa dagangannya. Wanita ini menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta. Paras indah dan baik pekerti dari laki-laki itu sungguh membuatnya terpesona. Ia tak ingin menginjak perasaan itu. Ia tak ingin menumpasnya meski ia juga tak menyemainya.

Hidup baru telah membentang. Rasa yang meluap-luap dalam diri Khadijah, ingin mencurahkan segala perasaannya untuk Muhammad. Tumpah ruah membuat dadanya sesak karena bahagia” (hlm. 109)

Khadijah tak hanya menjadi pendamping, namun ia juga menjadi pelindung. Ia takkan tega melihat suaminya diperlakukan tak pantas. Ia sering mendampingi kemana Nabi Muhammad melangkah. Senyum Khadijah adalah kekuatan untuk Nabi Muhammad. Hingga masa-masa sulit pun kian menjadi, Khadijah tak sedikitpun meninggalkan Nabi Muhammad. Khadijah hidup bersamanya hingga maut memisahkan.

Buku ini mengajak pembaca menyelami kehidupan Khadijah seolah-olah nyata di depan mata. Bahasa yang digunakan mampu membawa perasaan dan memvisualisasikan alur cerita yang ada. Diksi yang dipilih oleh penulis membuat pembaca merasa berada dalam situasi di mana tokoh dalam cerita itu berperan. Kisah sejarah yang pada umumnya disajikan dengan bahasa formal, Irfa Hudaya membungkusnya dengan nuansa sastra yang lekat nan kaya makna.

Melalui kisah ini, pembaca bisa mengambil ibrah bahwa Khadijah sang teladan wanita, pejuang emansipasi wanita, telah ada sejak zaman jahiliyah. Bahwa wanita bisa menentukan masa depannya, ia bisa bergerak aktif tanpa harus dikekang dan dibatasi oleh kaum pria. Khadijah mampu memilih sendiri pendamping hidupnya kala sosok manusia yang bernama wanita diperbudakkan, diambil jasanya, dan tak sama sekali tak ada nilainya.

Saat wanita-wanita hanya bisa berpasrah dengan keadaan, hati mereka bagaikan teriris sembilu, Khadijah menjadi tempat curhat dan mengadu. Ia selalu menyediakan ruang bagi wanita-wanita yang membutuhkan tempat walau sebatas agar keluh kesah mereka dirungu.

Wanita suci yang berkarya hingga banyak pria menaruh simpati padanya. Namun, keteguhan prinsipnya membuat Khadijah hanya memantapkan hatinya pada satu nama yang diam-diam telah mencuri perhatiannya. Begitu dalam cinta mereka, hingga saat Khadijah telah tiada, kenangan akan dirinya tak bisa dilupakan oleh sang suami, Rasulullah Saw. Sudah sepantasnya kita mengenang kisah perjalanan hidup sang pendamping manusia paling sempurna akhlaknya di dunia ini, Nabi Muhammad Saw. Oleh Lutfi Nur Fadhilah­_Mahasiswi UIN Walisongo Semarang

Judul Buku                  : Khadijah: First Love Never Dies

Penulis                         : Irfa Hudaya

Penerbit                       : Tinta Medina

Tempat terbit               : Solo

Tahun Terbit                : 2019

Jumlah Halaman          : xiv, 258 hlm; 20 cm

ISBN                           : 978-623-7011-89-7

Related Posts