Mengenang Keagungan Sang Wali ‘Qutub’ dari Bangkalan Madura

Pesarean Syaikhona Muhammad Cholil Bangkalan, begitulah orang-orang Bangkalan menamakannya (Pesarean memiliki makna tempat bersemayam atau tempat peristirahatan). Tempat ini menyimpan ribuan kenangan dalam hidup saya.

Dulu ketika masih kecil, bersama kang-kang Santri , saya selalu mendatangi pesarean ini setiap malam jum’at. Berziarah ke Pesarean di malam jum’at merupakan agenda wajib para santri Bangkalan dari berbagai pesantren. Awalnya saya tidak mengetahui secara detail siapa tokoh yang disemayamkan disana. yang saya tau dari para santri, itu adalah makam seorang bujuk (buyut). itu saja tidak lebih.

baru ketika saya mondok di Jepara pada tahun 2004, ada seorang sahabat menunjukkan kepada saya sebuah buku biografi Syaikhona Kholil berjudul ‘Surat Kepada Anjing Hitam’, dari situlah saya mulai mengetahui lebih dalam tentang Syaikhona Kholil Bangkalan. Mulai saat itu juga saya tau bahwa yang dimakamkan di Pesarean itu bukanlah sosok biasa, ia adalah sosok agung yang berhasil mencetak ulama-ulama besar di Bumi Nusantara.

Tahun 2012 ketika pertama kali sampai di Tarim, saya dibuat terkejut oleh fakta bahwa nama ‘harum’ Syaikhona Kholil juga tercium sampai Tanah Hadhramaut. Salah satu senior menuturkan bahwa ternyata Syaikhona Kholil memiliki hubungan yang sangat erat dengan Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsy Shohibul Maulid. Syaikhona bahkan disebut sering berjumpa dengan Habib Ali, entah bagaimana caranya beliau sampai ke Seiwun di waktu itu. Konon suatu hari Habib Ali berkata pada murid-muridnya bahwa sebentar lagi akan datang seorang ulama besar, tak lama kemudian datanglah Syaikhona. Habib Ali menyambut beliau dan keduanya terlihat berbincang-bincang akrab, dan uniknya pada pertemuan itu Habib Ali bercengkrama dengan Syaikhona memakai bahasa Madura.. !!

” Sae Non ? Kakdimmah Salakkah ? ” tanya Habib Ali kepada Syaikhona waktu itu..

Kemarin saya sowan ke salah satu ulama besar Madura yang memang memiliki keistimewaan sejak kecil, saya curhat kepada beliau mengenai masih banyak-nya sejarah Syaikhona Kholil yang masih belum terungkap hingga saat ini. Beliau lalu bercerita :

” Dulu waktu kecil saya berziarah ke makam Syaikhona, di depan makam saya melihat Rasulullah Saw berdiri bersama Sayyidina Ali. Sayyidina Ali bertanya kepada saya : ” seorang ‘Yatimah’ tidak boleh dinikahi. Apakah itu ada dalil haditsnya ? ” saya menjawab : ” iya ada.. ” , ketika itu saya melihat Rasulullah Saw tersenyum mendengar jawaban saya.. ”

Beliau menceritakan itu seperti menceritakan hal ‘biasa’, sedangkan aku makin serius menyimak dan semakin penasaran

” dulu waktu belajar di Mekkah saya pernah dua kali bermimpi bertemu Syaikhona Kholil ” beliau melanjutkan ceritanya” Yang pertama saya melihat beliau di sebuah Musholla, wajahnya mirip Kiai Nashir Yasin Senenan. Yang kedua saya melihat seseorang yang saya yakini adalah Rasulullah Saw, setelah saya lihat ternyata ia berwujud Syaikhona Kholil. Jika Rasulullah Saw menyerupai seseorang dalam mimpi, itu artinya orang tersebut adalah seorang Wali Qutub (tingkat kewalian paling tinggi).. ”

Masih banyak lagi ribuan misteri tentang keagungan Syaikhona Kholil yang belum terungkap hingga detik ini.

Malam Jum’at kemarin, di pusara beliau aku benar-benar merasa kerdil di hadapan kemuliaan dan keagungan sosok Syaikhona. Berharap mendapat percikan barokah dari beliau meski hanya setetes. aku duduk menunduk dan menyampaikan :

” Kaulo sudah pulang dari Tarim, semoga bisa meniti jejak-jejak agung njenengan … ”

Ditulis pada Januari, 2019

Penulis: Ismael Amin Kholil.

Related Posts