Menjerat Gus Dur Sang Bijakbestari

Tadi sore, begitu rombongan tamu dari pesantren Al Ishlahiyah Malang (tiga bus pariwisata) tiba, aku menyambut pengasuh Kiyai Imron Rosyadi dan ketua rombongan. Lalu ngobrol santai di teras masjid sebelum acara dimulai. Aku bilang isu paling viral dan heboh awal tahun ini ada dua: Buku “Menjerat Gus Dur” dan Banjir besar di Jabodetabek. Pada isu yang pertama aku menyampaikan kata-kata Imam Jalaluddin al-Suyuthi, ulama besar, seorang ensiklopedis dengan ratusan karya tulisnya, mengatakan :

مَاكَانَ كَبِيْرٌ فِى عَصْرٍ قَطُّ اِلَّا كَانَ لَهُ عَدُوٌّ مِنْ السَّفَلَةِ. إِذِ الْاَشْرَافُ لَمْ تَزَلْ تُبْتَلَى بِا لْاَطْرَافِ فَكَانَ لِآدَمَ إِبْلِيس , وَكَانَ لِنُوحٍ حَام وَغَيْرُه وَكَانَ لِدَاوُدَ جَالُوت وَاَضْرَابُه وَكَانَ لِسُلَيْمَان صَخَر وَكَانَ لِعِيْسَى بُخْتَنْصِر وَكَانَ لِاِبْرَاهِيم النَمْرُود وَكَانَ لِمُوسَى فِرْعَون وَهَكَذَا اِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَهُ ابو جَهَل

“Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki (dimusuhi) orang-orang berkarakter rendah. Orang-orang terhormat/mulia selalu diuji oleh orang-orang pinggiran yang berkarakter rendah itu. Dulu Nabi Adam dimusuhi Iblis, Nabi Nuh dimusuhi Ham dan lainnya, Nabi Daud dimusuhig Jalut dan pasukannya, Nabi Sulaiman dimusuhi Sakhr, Nabi Isa dimusuhi Bukhtanshir, Nabi Ibrahim dimusuhi Namrud, Nabi Musa dimusuhi Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad saw. Beliau dimusuhi Abu Jahal.”

Para tokoh bijak-bestari (Hukama, sufi) dalam sejarahnya, memang, bukan hanya disumpah-serapahi dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan, dizindiqkan (dituduh atheis). Mereka bahkan ingin dilenyapkan oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri sendiri dan buta pada kebenaran yang lain.

Sementara Ka’ab al-Ahbar, seorang ahli tafsir bibel yg lalu masuk Islam. Ia bilang:

مَاكَانَ رَجُلٌ حَكِيْمٌ فِى قَوْمِهِ قَطُّ اِلَّا بَغَوْا عَلَيْهِ وَحَسَدُوهُ

“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu saja ada orang-orang/kelompok yang mencaci-maki dan mendengki dia.”

Imam al-Syafi’i sebagaimana dikutip oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya “Faishal al-Tafriqah Baina al-Islam wa Al-Zandaqah” mengatakan :

كلُّ العداوةِ قد تُرْجى سلامتها إلاَّ عداوةَ من عَادَاكَ بالحَسَدِ .

“Semua kebencian dapat diharap dihentikan, kecuali kebencian karena dengki”.

“Di negeri ini sang Bijakbesatari itu adalah Gus Dur”, aku memungkasi. Kiyai Imron mengangguk-angguk.

04.01.20
HM

Related Posts