Meraih Rezeki di Era Demokrasi

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allâh telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allâh yang kamu beriman kepada-Nya”. – (QS. Al Mâidah:88]

Setiap insan untuk bisa eksis dan berkembang sangat membutuhkan rizki. Ada insan yang melimpah dengan rizki, ada yang sedang rizkinya dan ada yang kurang rizkinya. Di era demokrasi mencari rizki bisa mudah, tetapi juga bisa sulit. Mudah karena terbuka kesempatan yang sama untuk bisa akses rizki, sulit karena harus mengandalkan kemampuannya sendiri, tidak ada lagi andalkan KKN. Apapun kondisinya kita harus berjuang meraih rizki untuk bisa hidup survive yang berarti.

Secara umum bahwa rizki telah ditetapkan oleh Allah swt bagi semua insan yang bergerak di atas bumi, sebagaimana Allah swt firmankan dalam QS Hud:6, yang artinya “Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya”. Bahkan bagi anak Adam telah dianugerahkan oleh Allah swt rizki sejak berusia dalam kandungan 4 bulan. Hal ditegaskan dalam Hadits Rasulullah saw, yang bersabda : “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dihimpun penciptaannya di perut ibunya selama empat bulan.… lantas diutuslah malaikat dan meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintah untuk menuliskan empat ketetapan, (yaitu) rizki, ajal, amalan dan kecelakaan atau kebahagiaannya. (HR Muslim). Berdasarkan dua sumber ini dapat dipahami bahwa rizki secara sunnatullah sudah disiapkan bagi setiap insan yang dilahirkan di atas bumi. Namun dalam realisasinya perlu ada ikhtiar yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga rizki dapat diraih dengan baik.

Rizki seringkali dikaitkan dengan penghasilan. Pemahaman ini tentu mereduksi nilai rizki, karena pada hakekatnya rizki itu bisa dikategorikan dua besar, yaitu rizki yang bersifat material yang nampak (dzahirah) berbentuk uang, makanan, dsb dan rizki yang bersifat nonmaterial yang tak tampak (batiniah), berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu). Pemahaman ini sebenarnya bersifat sempit, karena pada dasarnya rizki bisa difahami secara luas, bahwa rizki adalah sesuatu yang memberikan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi anak Adam, misal: selamatnya dari kecelakaan, terhindarnya musibah banjir, terbebasnya dari penyakit akut dan sebagainya. Karena terbebasnya dari kecelakaaan, dari musibah banjir atau penyakit akut, seseorang bisa bekerja atau belajar dengan baik, sehingga memperoleh rizki yang berarti bagi hidupnya di saat ini dan mendatang. Rizki yang diperoleh tidak hanya bisa dinikmati sendiri, melainkan juga dapat dinikmati lebih banyak orang. Apalagi dengan selamat bisa menambah ilmu yang lebih banyak lagi, yang selanjutnya ilmu bisa disebarkan kepada yang haus ilmu sehingga manfaatnya bisa sampai hari akhir.

Dalam perspektif hukum Islam, rizki bisa dikategorikan halal dan haram, baik dikaitkan dengan proses pemerolehan maupun pemanfaatannya. Tentu untuk kebaikan diri kita sendiri baik hidup di dunia maupun di akhirat, persoalan hukum ini harus menjadi concern kita. Kita sangat menyadari bahwa yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas, serta antara keduanya adalah subhat. Untuk rizki material yang halal, kita tidak boleh lakukan berbagai perilaku maksiat. Demikian juga untuk rizki nonmaterial yang halal, kita tidak boleh menuntut ilmu melalui kecurangan, apa itu cheating atau plagiasi.

Persoalan yang sering kita hadapi dalam mencari rizki dewasa ini tidaklah mudah. Karena secara sistem institusi kita belum sepenuhnya stiril dari hal-hal haram. Terlebih-lebih berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang majemuk. Tanpa harus menyalahkan pihak lain, kita secara proaktif perlu berhati-hati, sehingga kita terbebaskan dari rizki yang tidak halal dan tidak baik (thayyib). Perhatikan peringatan Allah swt dalam QS Al Baqarah:168, yang artinya “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

Akhirnya, bahwa persoalan rizki dewasa ini tidak boleh kita abaikan, karena menyangkut keselamatan diri dan keluarga. Untuk itu isteri dalam suatu rumah tangga menjadi kunci penting keselamatan keluarga dari rizki yang tidak halal dan baik. Isteri wajib memastikan, bahwa suami atau ayah yang membawa rizki pulang wajib dikonfirmasi, jangan sampai kesalahan terjadi secara terus menerus. Karena jika tak beruntung, kecelakaan akibat dari membawa rizki yang tidak halal, dikhawatirkan dapat menjadikan keluarga terkena abunya. Semoga kita selamat dengan rizki yang halal dan thayyib. (Yogyakarta, 09/01/2020, Kamis, pk. 20.48)

Related Posts