Pelabelan Paradigma Fiqh: Fiqh Spiritualis dan Fiqh Identitas

Fiqh adalah salah satu cara manusia ‘berpolitik’ (bersiasat dan berstrategi) di depan Tuhan—agar bisa dilihat baik dan benar.
Para pengikut Imam Syafi’i mungkin harus merevisi banyak hal tentang disain ushul fiqh yang telah dibangunnya dengan susah payah—

Zoon politicoon—manusia sudah politis sejak awal diciptakan—bahkan iblis dan malaikat pun sudah kalah secara politik sejak di surga ketika keduanya gagal menyebutkan nama nama—

Tapi sayang ketiganya berakhir sama: diusir meninggalkan surga meski dengan cara berbeda, dan mengurai nasib yang sudah di tetapkan. Iblis di usir dari surga karena sombong enggan sujud kepada Adam—iblis berdalih dirinya lebih mulia dari Adam sebab dirinya berasal dari api sedang Adam dari tanah.

Akan halnya Adam setelah menghuni surga beberapa lama juga bernasib sama—di usir karena makan buah larangan—turun ke dunia menjalani hukuman. Dua makhluk ini sama-sama diusir atau diturunkan dari surga meski dengan cara berbeda. Lantas bagaimana dengan malaikat ? Perlu kajian khusus, pasca pengusiran iblis dan Adam dari surga, apakah Malaikat tetap menghuni surga ? Atau menempati alam lain ?

Qabil dan Habil juga kurang lebih sama—keduanya juga ‘berpolitik’ di depan Tuhan saat berebut Ikrimah dengan berbagai sesembahan yang mereka berikan. Manusia tetap saja tak berubah—ingin menang sendiri dan terus berebut. Meski secara generik diakui bahwa Islam sebagai satu-satunya jalan benar. Di dalamnya tetap saja ada intrik merasa paling benar lagi atas benar yang lainnya.

Maka diciptakan berbagai atribut dan identitas untuk membedakan. Mulai dari packaging berusia gamis, jenggut, cadar, celana cingkrang hingga parfum—awalnya ilmu fiqh dan ushul dan seluruh perangkatnya ditujukan untuk memudahkan seorang hamba mendekat kepada Rabbnya sebelum berubah secara politis menjadi penanda atau mencirikan identitas kelompok tertentu.

Mudah memilah hanya dengan bentuk pakaian dan janggut siapa saudara kita dari Salafi atau tabligh atau HT atau NU. Kita juga dengan mudah membedakan kerumunan yasinan, tahlilan, manakiban, dhiba, burdah dengan halaqah atau dhaurah dengan majlis ilmu, seminar atau forum.

Fiqh bukan semata soal beda ritual yang di debat ramai. Bukan hanya tentang jumlah rakaat dan formasi shalat tarweh apalagi soal tempat di mana shalat Iedain di laksanakan. Gamis bukan hanya sekedar pakaian yang dikenakan. Atau sarung yang dilipat bahkan kopyah atau surban yang di taruh di atas kepala. Tapi ini soal identitas. Keinginan untuk mendapat legitimasi pengikut dan umat. Saling mengklaim paling benar.

Imam Malik bin Anas berbeda dengan muridnya, imam as Syafi’i atau Muhamad bin Idris sebanyak 5,679 ikhtilaf. Tapi keduanya tetap akur. Buya HAMKA membaca qunut shalat shubuh karena Ma’mum nya ada Kyai Idham Chalid, Begitu pula dengan guru-guru yang lain, semua berikhtilaf dan itu menjadi bagian dari keteladanan, bagaimana berbeda dengan tidak saling merendahkan—apalagi saling menyesatkan dan membid’ahkan seperti yang hari ini lazim dilakukan para ulama—saling sindir dan mentahdzir yang tidak sehaluan.

Sampai di tahapan ini—‘politik fiqh’ di mulai : pegeseran spiritualitas fiqh dari paradigma penghambaan kepada Allah berubah menjadi pelabelan identitas sesama hamba di depan Allah—baik politik, status sosial dan pengelompokan atas dasar manhaj.

Related Posts