Perpustakaan Ideal Bukan Dilihat Dari Koleksi Bukunya

Saat awal pertama kali melihat buku-buku yang usang, saya tidak memiliki rasa tertarik sedikitpun. Yang terlintas dalam benak saya hanya “ah buku-buku usang yang tidak relevan lagi dengan zaman.”. Benar zaman telah maju. Perubahan kehidupan dari zaman dahulu hingga sekarang mempertontonkan kemajuan yang singnifikan.

Seakan benak ini tidak menerima kenyataan cetakan-cetakan buku lawas. Belum lagi terlihat beberapa buku yang mulai menguning kertasnya. Ada pula yang bredel. Namun, di sisi lain di perpustakaan ini memiliki keunikan tersendiri, dari pada perpustakaan yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Dalam perpustakaan ini ada banyak koleksi kitab-kitab klasik karya ulama’ masyhur di zamannya.

Menurut prespektif saya, karena kesan perpustakaan ini bermodel ala bangunan lawas, jadi, mindset seseorang itu pesimis dulu saat pertamakali masuk, termasuk saya. Ada benarnya juga apabila ada beberapa yang memberi kritikan. Misalnya, “ah, buku yang disediakan kurang lengkap. Belum bisa mewakili tuntutan mata kuliah.” selain itu juga, tidak pernah up-date buku-buku terbaru.

Terlepas dari faktor apapun yang terikat dan mengikat pada perpustakaan. Sejarah yang ada di baliknya tidak kalah menarik, fantastis dan mengesankan. Jerih payah untuk memasok buku-buku di sana tidak bisa dikatakan “alah biasa.” Jantung pendidikan pesantren mahasiswa Al-Hikam yang saya kunjungi ini memiliki keihklasan tersendiri dalam melayani siapapun yang mengunjungi.

Perkembangan yang seharusnya terjadi, berbalik menjadi stagnasi. Baik pemilik (orang-orang disekitar) maupun jantung itu sendiri mengalami kemandegkan. Namun di balik itu, ada anak didik yang berhasil, terbantu oleh suntikan darah buku-buku yang ada perpustakaan.

Alhasil, Kecintaan yang sesungguhnya akan muncul, ketika seorang telah dan mau mengetahui isi di dalam (hati) -nya. Mustahil, anda akan mencintai seorang wanita sekadar melihat parasnya yang menawan. Bisa saja, iya. Namun, bagaimana ketika yang terlihat justru bukan tampilan menawan?

Sikap yang harus diambil adalah membaca. Urusan buku lawas, itu tidak penting. Kemudian menulis. Meski hanya artikel yang kurang memiliki nilai baca, misalnya. Tugas yang perlu dikerjakan hanya membaca untuk kemudian ditulis. Kalau perlu didiskusikan, itu lebih baik. Karena takdir itu tidak bisa didapat seperti menungu air hujan.

Related Posts