Sanggahan atas Khalid Basalamah yang Berkata Mengusap Kepala/Rambut Bukan Rukun Wudlu’

Dalam sebuah video berdurasi 0:52 detik, Khalid Basalamah, gembong Wahhabi, menyatakan bahwa mengusap kepala/rambut tidak termasuk rukun wudlu’ sehingga tidak wajib dilakukan. “Itu hanya sunnah saja”, katanya. Berikut videonya:

Ini jelas sebuah kesalahan yang fatal, sebab perintah mengusap kepala itu sudah qath’iyud dilalah di dalam nash al-Qur’an dan hadits, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”

Artinya, orang yang wudlu’ tetapi tidak mengusap kepala/rambut, maka wudlu’nya tidak sah. Syekh Muhammad Ali al-Shabuni dalam kitab Rawa’iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam juz I halaman 538-539 menjelaskan, para ulama mazhab empat sepakat bahwa mengusap kepala merupakan kewajiban (rukun) dalam wudlu’.

Jika Khalid Basalamah menganggap bahwa mengusap kepala/rambut itu tidak wajib, lantas dia merujuk kepada pendapat siapa padahal mazhab yang empat telah sepakat atas wajibnya mengusap kepala/rambut saat wudlu’?

Selain itu, Khalid Basalamah berargumen bahwa dalil tidak wajibnya mengusap kepala/rambut saat wudlu’ itu sama dengan dalil tidak wajibnya mengusap kepala/rambut saat tayammum. Hmm… ini sungguh analogi yang ngawur.

Ayat tayammum yang dimaksud oleh gembong Wahabi ini adalah juga terdapat dalam Q.S. al-Maidah ayat 6:

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

“Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih), usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.”

Dalam ayat tersebut memang tidak ada perintah untuk mengusap kepala/rambut saat tayammum, tetapi hanya wajah dan tangan. Bisa dibayangkan betapa lucunya jika harus mengusap kepala dengan debu/tanah. Makanya Allah tidak mewajibkannya.

Saya yakin ada yang error dari ingatan dan pemahaman Khalid Basalamah ketika menyamakan ayat wudlu’ dengan ayat tayammum tersebut. Padahal sejatinya, para ulama empat mazhab membandingkan ayat wudlu’ dengan ayat tayammum itu bukan dalam hal wajib tidaknya mengusap kepala/rambut saat wudlu, tetapi dalam hal mengusap keseluruhan atau sebagian saja.

Ulama mazhab Maliki dan Hanbali mewajibkan mengusap seluruh kepala, demi kehati-hatian dalam beribadah. Ulama mazhab Hanafi mewajibkan mengusap seperempat kepala. Sedangkan ulama mazhab Syafi’i mewajibkan mengusap sebagian kepala, walaupun hanya beberapa helai rambut.

Perbedaan ini muncul karena perbedaan dalam memahami makna dan faedah huruf “ba” pada lafad بِرُءُوسِكُمْ dalam ayat di atas. Ulama yang menganggap huruf “ba” tersebut berfaedah “zaidah/tambahan” mewajibkan mengusap seluruh kepala. Artinya, keberadaan huruf “ba” tidak mempengaruhi makna, karena hanya bersifat tambahan. Sedangkan ulama yang menganggap huruf “ba” dimaksud berfaedah “tab’idl/sebagian” mewajibkan mengusap sebagian kepala.

Ulama mazhab Maliki dan Hanbali yang mewajibkan mengusap seluruh kepala beralasan bahwa ayat tentang wudlu’ (ayat di atas) menyerupai ayat tentang tayammum (ayat di atas juga). Pada ayat tayammum, Allah memerintahkan mengusap seluruh wajah (بوجوهكم). Itu artinya, dalam wudlu’ pun Allah memerintahkan mengusap seluruh kepala (برؤسكم), bukan sebagiannya. Itu menurut mereka.

Di sinilah akar kesalahan ingatan Khalid Basalamah: “ketika ingat ayat wudlu’ dan ayat tatammum, ia memahaminya sebagai kesamaan atas tidak wajibnya mengusap kepala”. Padahal yang benar adalah: “para ulama Maliki dan Hanbali menyamakan ayat wudlu’ dengan ayat tayammum dalam hal mengusap seluruh kepala, karena faedah huruf ba’ pada lafad برؤسكم dianggap sama dengan faedah huruf ba’ pada lafad بوجوهكم yakni sama-sama berfaedah ziyadah sehingga bermakna keseluruhan”.

Ketika menjawab pertanyaan salah satu jamaahnya, ia terlalu gegabah, keburu berfatwa. Mungkin maksudnya ia ingin menunjukkan bahwa dirinya cerdas. Tapi sungguh naif, ia justru membuat kesalahan yang fatal.

Related Posts