Santri Penghafal Al-Qur’an di Garut Dapat Hadiah 100 Dollar AS dari Kuwait

Ketua Badan Wakaf Pondok Pesantren Darussalam, Kersamanah, Kabupaten Garut, KH Abdullah Said Baharmus mengatakan bahwa penghafal Al-Qur’an mendapat penghargaan dari perwakilan International Islamic Charity Organization Kuwait.

“Ada tamu dari Kuwait 50 orang dan memberi kehormatan kepada kita. Mereka juga diberi hadiah 100 Dollar Amerika Serikat atau Rp1,4 jutaan, masing-masing,” terang KH Abdullah, saat penyerahan hadiah kepada 138 santri penghafal al-Qur’an di acara wisuda hafidz dan hafidzah, Sabtu (11/1) lalu.

Adapun 138 santri yang lulus dan telah dinyatakan hafal Alquran sebanyak 138 orang tersebut adalah terdiri atas 98 santriwan dan santriwati Pesantren Darussalam dan 40 orang dari Pesanten Walantaka, Banten.

“Seluruh penghafal Alquran usia pelajar itu telah mengikuti proses kegiatan hafalan yang sangat ketat hingga akhirnya berhasil dan mampu menghafal Alquran,” katanya.

Setelah itu, mereka akan membantu para santri di pesantren untuk menghafal Alquran. Setelah itu, mereka akan pulang ke rumah untuk mengabdi ke masyarakat, memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. “Saat pulang ke rumahnya masing-masing mereka harus berdedikasi untuk bangsa dan negara,” terang KH Abdullah.

Sementara Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Kersamanah, Kabupaten Garut, KH Asep Solahuddin Mu’thie menambahkan, wisuda penghafal Alquran tersebut merupakan gelombang pertama. Selanjutnya, empat tahun berikut akan menggelar wisuda serupa.

Seluruh santri berprestasi yang diwisuda merupakan hasil seleksi dari sekian banyak santri. Mereka kemudian mengikuti setiap tahapan yang sangat ketat hingga akhirnya lulus menjadi penghafal Alquran.

“Program ini gelombang pertama. Nanti dimulai lagi yang baru sampai empat tahun, empat tahun sekali diwisuda,” katanya.

Salah seorang santriwati penghafal Alquran dari Pondok Pesantren Darussalam Imelda Fitriana (16), mengaku senang bisa diwisuda sebagai penghafal Alquran bersama para santri lain.

Sambil menangis, Imelda menceritakan kisahnya selama mengikuti kegiatan menghafal Alquran. Dia harus memulai dari tahapan hafalan setiap juz selama satu tahun enam bulan, kemudian selama dua bulan proses hafalan untuk 30 juz.

“Ini semua karena Allah, hingga saya bisa. Persiapannya pertama, jelas niatkan pada harkatnya karena Allah, niat untuk menjadi lebih baik,” kata Imelda. [Sumber: Laduni]

Related Posts