Saran Bagi Orang Tua yang Ingin Bercerai

Pembaca bertanya

Q : Gini, Ce. Saya punya orang tua yang dari saya masih kecil hingga sekarang tidak pernah harmonis. Ada aja mereka punya konflik. Singkat cerita, aku banyak menyalahkan mama aku, Ce. Mama aku orangnya curigaan, suka menuduh yang enggak-enggak, kepoan, sering ngomong kasar ke bapak. Bapak saya selalu dituduh berselingkuh. Bawaannya curigaan. Bapak sering cerita sama saya, sebenernya bapak saya sudah tidak tahan dengan tingkah polah mama. Gitu juga saya. Saya selalu saranin untuk cerai, karena kasian bapak sudah sangat stress. Tapi bapak selalu bilang kasihan saya, kalau memang harus cerai tunggu setelah saya menikah. Ce, jujur saya kurang ngerti dengan karakter mama, yang saya tahu dia suka banget cari keributan. Bukan cuma dengan kakak dan adiknya, sama tetangga, sama saudara-saudara kami juga.

Ce, saya mau tanya.
Pertama, kira-kira apa yang harus saya lakukan untuk kedua orangtua saya? Saya sudah ga tahan, saya kasihan dengan bapak. Saya mau mereka bercerai saja, jujur saya lebih memihak bapak tapi saya masih tetap sayang sama mama walaupun saya benci dengan tingkahnya.

Kedua Ce, saya jadi takut dengan pernikahan. Saya takut punya tabiat seperti mama. Akhir-akhir ini saya menyadari sifat mama itu ada di saya. Contoh, saya suka jealous, saya suka curigaan, saya suka sensi kalo misal di media sosial cowok saya nge-like postingan cewek lain. Saya suka uring-uringan kalau cowok saya lupa nge-chat walau saya gak utarakan, hanya simpan dalam hati. Saya sadari itu dan saya sedang berjuang untuk melawan atau mengelola perasaan saya, saya takut itu akan terbawa sampai saya berumah tangga.

Terakhir Ce, saya takut punya kehidupan pernikahan seperti kedua orang tua saya. Yang pernah saya dengar, kehidupan pernikahan orang tua kita adalah gambaran pernikahan kita.

Estiana Arifin Menjewab

EA : 1. “kira-kira apa yang harus saya lakukan untuk kedua orang tua saya? ==>” Sebenarnya, apa dan bagaimana hubungan kedua orang tua kamu adalah urusan pribadi mereka berdua kendati kamu anaknya. Mereka telah dewasa dan seharusnya mampu memikirkan tindakan dan keputusan yang tepat untuk kondisi mereka berdua.

2. “Saya sudah ga tahan, saya kasihan dengan bapak. ==>” Kamu boleh menunjukkan support kepada salah satu orang tua sebagai bentuk dukungan pada pihak yang kamu anggap diperlakukan tidak adil. Tapi bagaimanapun, sebagai anak, kamu sebaiknya tidak berlebihan dengan support kamu sehingga ibu kamu merasa kalian bersekongkol, ayah kamu mempengaruhi kamu atau kamu terlihat membenci ibumu. Semua pikiran yang timbul seperti itu hanya memperkeruh keadaan keluarga kalian.

3. “Saya mau mereka bercerai saja ==>” Kamu tidak dapat mengatakan hal seperti ini ke orang tua kamu, karena ini relationship mereka berdua.

4. Jujur saya lebih memihak bapak tapi saya masih tetap sayang sama mama walaupun saya benci dengan tingkahnya. ==> Sebaiknya kamu tetap berada dalam posisi seorang anak, yaitu setiap support kamu pada orang tua berfokus untuk kondisi keluarga yang baik dan nyaman (entah itu bercerai atau tidak, itu terserah orang tua kamu). Kamu dapat meminta kepada keduanya untuk serius menyelesaikan perseteruan dan ketidakcocokan mereka agar keluarga kalian sehat.

5. “Kedua Ce, saya jadi takut dengan pernikahan Saya takut punya tabiat seperti mama. Akhir-akhir ini saya menyadari sifat mama itu ada di saya. ==>” Jangan khawatir. Sepanjang kamu sadar untuk apa dan mengapa kamu bertindak maka tindakan kamu tidak akan merugikan diri sendiri dan orang lain atau memperburuk hubungan manapun. Untuk itu, jika kamu memang menyadari kekurangan kamu di mana, dalam tiap tindakan dan sikap kamu biasakan untuk berpikir terlebih dahulu. Jangan bertindak impulsif karena yang akan keluar pastinya kekurangan kamu. Kamu telah melihat bagaimana kekurangan mama kamu menyusahkan semua orang, itu artinya kamu punya kesadaran yang baik. Tetaplah pada kesadaran ini dan kembangkan kesadaran yang ada agar kamu jadi pribadi yang mampu memanage diri sendiri. Kamu pasti dapat lakukan sepanjang kamu sadar dengan tindakan dan sikap kamu.

6. “Terakhir Ce, saya takut punya kehidupan pernikahan seperti kedua orang tua saya ==>” Jangan takut, kualitas pernikahan seseorang tergantung dari kualitas diri orang itu dalam memahami orang lain (dalam hal ini pasangannya), kemampuan memperbaiki diri dan introspeksi disamping pemahaman yang matang soal komitmen.

7. “Yang pernah saya dengar, kehidupan pernikahan orang tua kita adalah gambaran pernikahan kita ==>” Kalau kamu meneruskan sikap dan cara orang tua kamu dalam hal memperlakukan pasangan, mungkin pernyataan itu benar. Jadi segala sesuatu tergantung pada diri kamu, bukan pada siapapun kendati itu orang tua kamu.

Q : Ce, thank youuuu…. I love youuuu…. Tapi saya sudah bersikap salah, contoh, saya melabrak mama saya lewat chat. Saya marah karena mama saya berkata kasar, kotor dan tidak pantas. Saya marah sama mama saya. Sekali lagi terimaksih masukannya, Ce.

EA : Sebaiknya kalau kamu ga suka, abaikan saja daripada kamu berdebat atau memaki orang tua.

Q : Iya, Ce. Thank youu….

8 #Desember 2019
© Estiana Arifin

(Tulisan ini sebelumnya dimuat di beranda Facebook Estiana Arifin dimuat ulang dengan tujuan pendidikan)

Related Posts