Sejenak Kita Belajar dengan Mas Virdika Rizky Utama, Jurnalis Muda Pemberani

Ketika saya melihat dan mendengarkan secara seksama talk show-nya mas Virdika Rizky Utama di salah satu Chanel YouTube mengenai isi proses dan pengakuannya terhadap bukunya “Menjerat Gus Dur” dari gelagat tubuhnya tampak begitu santai, rileks banget, santuy, dan ketawanya lepas, bicaranya mengalir, tanpa ada ketakutan sedikit pun.

Mas Virdi bicara apa adanya sesuai temuannya berupa berkas yang membuat dirinya kaget, tercengang, tapi di sisi lain membuat dia senang sebagai anak sejarah. Di berkas dan dokumen itulah sosok penulis muda ini menemukan fakta sejarah yang berkenaan dengan propaganda pelengseran Gus Dur.

Memang di luar dugaan, justru lewat pemuda ini fakta kebenaran yang sesungguhnya bisa terungkap. Kenapa harus pemuda dan jurnalis ini ? Ini tentu berdasarkan skenario Tuhan yang maha kuasa. Tuhan bisa memilih siapa saja yang dikehendaki untuk membuka tabir kebenaran

Ini bukti bahwa pemuda bisa kapan saja dan di mana saja menemukan kebenaran. Jadi peran pemuda tidak boleh dilihat sebelah mata. Gus Dur pernah bilang “Lihat saja nanti sejarah akan membuktikan”. Dan sekarang dari pemuda ini, sejarah itu mulai terkuak kebenarannya.

Kembali kita belajar ke sosok pemuda cerdas, jurnalis pemberani, pemuda pekerja keras satu ini. Dia berani mengambil risiko, melakukan riset dalam satu tahun itu bukan sesuatu yang mudah. Dia begitu sulit menghadapi rintangan dan tantangan untuk mengkonfirmasi hasil temuannya itu. Mengerikannya, tak sedikit mendapatkan ancaman.

Salah satu ancaman yang nampak adalah ketika mewawancarai tokoh nasional yang diduga terlibat dalam proses pelengseran Gus Dur, AR. Betapa mengerikannya, ketika dia mau memulai mengkonfirmasi data temuannya itu, tokoh itu langsung bilang “Anda belum tentu selamat keluar dari rumah ini”. Ngerri kan. Ini semakin menunjukkan bahwa data-data temuan itu mendekati kebenaran sesungguhnya. Sebagai tokoh nasional, tidak pantas berbicara seperti itu. Tokoh nasional kok beringas banget, main ancam-ancam segala.

Kabarnya buku ini sudah terjual lebih dari 10 ribu eksemplar dan sudah memasuki cetakan ketiga dan mungkin akan berlanjut sampai cetakan keempat kelima keenam dan seterusnya. Bukunya sudah terjual lumayan banyak tapi stasiun televisi belum juga menganggap hal ini penting.

Saya jadi khawatir, kalau mas virdi ini tiba-tiba diundang jadi narasumber di salah stasiun televisi. Menurut saya mendingan tidak usah. Beliau yang berani, kami-kami ini yang takut.

Malang 7 Januari 2020

Related Posts