Setiap Kesaktian yang Menyalahi Syari’at, Adalah Kesesatan yang Nyata

Dikisahkan, pada suatu malam al-Faqih Abi Maisarah al-Malikiy sedang melakukan sholat, berdoa dan mendekatkan diri pada Allah di mihrabnya. Saat jiwanya mulai menemukan kedamaian bersama Sang Khaliq. Tiba-tiba beliau mendapati mihrabnya terbelah dan muncul kilauan cahaya yang sangat terang kemudian tampak sosok Iblis laknatullah yang malih rupa berwujud manusia berwajah bak purnama lalu berkata pada al-Faquh Abi Maisarah al-Malikiy:

“Engkau telah dipenuhi cahaya wajah keagunganku, wahai Abi Maisarah! Aku adalah Tuhanmu Yang Maha Tinggi.

Mendengar ucapannya, al-Faqih Abi Maisarah al-Malikiy marah dan meludahi sosok tersebut kemudian mengusirnya:

“Enyahlah dari mihrabku ini wahai engkau yang terlaknat, laknat Allah akan selalu menyertaimu”.

Seketika itu Iblis mengilang dan tidak pernah berani lagi menampakan batang hidungnya.

Kisah di atas diabadikan oleh Syaikh Abu Ishaq asy-Syathibi ( W.790 H/1388 M) nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi al-Garnathiy yang terkenal dengan sebutan Asy-Syathibi al-Malikiy dalam karyanya al-Muwafaqat fi Usuli asy-Syari’ati mengutip dari Syaikh ‘Iyyadh dari al-Faqih Abi Maisarah al-Malikiy.

Kemudian Syaikh asy-Syathibi memberikan kompentar berkaitan dengan kisah di atas : “Bahwa setiap kesaktian atau kejadian supra natural yang lahir dari manusia biasa (bukan nabi) yang jelas menyalahi syari’at, merupakan bukti kesesatan pelakunya karena meski dhahirnya tampak nyata dan menakjubkan seperti karomah para wali, kejadian tersebut tiada lain hanyalah trik dan tipu daya Iblis untuk menjeruskan anak manusia”.

Masih menurut Syaikh asy-Syathibi, kisah di atas juga pernah dialami Sulton Awlia Syakh Abdul Qadir al-Jailani ra yang masyhur diceritan dalam beberapa litelatur ilmu Tasawuf, bahwa Syakh Abdul Al-Qadir al-Jailani ra pada suatu hari dalam keadaan sangat haus. Tiba-tiba mucul awan hitam mengudang hujan, tidak seberapa lama hujan pun turun dengan derasnya hingga Syekh Abdul Qadir al-Jailani bisa mengobati dahaganya dengan air hujan tersebut kemudian terdengar suara menggema:

“Wahai Fulan! Aku adalah tuhanmu dan sekarang telah aku halalkan padamu semua perkara yang aku haramkan”.

Mendengar suara itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani murka dan mengusir pemilik suara itu.

“Enyahlah engkau dari tempat ini wahai terlaknat!”.

Seketika awan hitam itu memudar dan sirna berganti wujud Iblis yang kemudian bertanya pada Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Dengan apa engkau mengtahui bahwa aku adalah Iblis?”.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab: “Dengan ucapmu tadi: “Aku halalkan padamu semua perkara yang aku haramkan”. Seandainya syariat tidak pernah menetapkan hukum (mengahalalkan suatu yang telah dihalalkannya dan mengharamkan suatu yang telah diharamkannya) tentu aku akan tertipu dengan ucapan syatanmu itu.

Waallahu Alamu

Referensi:

๐Ÿ“– Syaikh Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi al-Garnathiy| Al-Muwafaqati fi Usuli asy-Syari’ati| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1, halaman 178|

Related Posts