Tradisi Pengajian Kiai NU di Kampung

Di kampung tempat tinggal kami, Desa Mancar, kecamatan Peterongan, Jombang, Jatim, sekitar satu kilo meter dari Pesantren Darul Ulum Rejoso, dan sekitar empat kilo meter dari kota Jombang, ada jamaah rutinan pengajian bapak-bapak.

Jumlah jamaah tetapnya kurang lebih empat puluh laki-laki tua muda. Mereka berkeliling tiap malam Selasa untuk mengikuti pengajian di masjid dan mushola di wilayah Desa Mancar. Saat ini ada empat masjid, dan empat puluh empat mushola atau langgar. Jumlah totalnya adalah 48 mushola dan masjid.

Sebagaimana layaknya masyarakat Nahdliyyin, maka dalam pengajian ini dimulai dari tahlilan dan istighasahan. Kemudian satu persatu para ustadz membawakan kajian materinya masing-masing.

Ketika kami ikut mendengarkan pengajian jamaah ini pada Senin malam, 13 Januari 2020 di Mushola Al-Ikhlas, Perum Kencana Mutiara, kami penasaran untuk bertanya kepada salah satu pengasuh pengajian ini, yaitu Kiai Ali, yang merupakan salah satu tokoh sepuh Nahdlatul Ulama di desa Mancar. Beliau pernah menjadi Rais Syuriyah MWCNU Peterongan. Usia beliau 78 tahun, masih sehat, dan naik sepeda motor dari rumah beliau ke tempat pengajian, sendirian.

Kami tanya, sejak kapan jamaah ini berdiri. Beliau kemudian menjawab,”Tahun 1982, jamaah pengajian ini sudah ada di Mancar. Saya hanya penerus saja.”

Luarbiasa, jika kita ambil sederhana, bahwa jamaah ini sudah berdiri pada tahun 1980, maka jamaah ini sudah berusia 40 tahun. Tentu bukan usia yang muda.

Yang unik, pengajian ini diasuh oleh empat ustadz atau Kiai. Bergantian para beliau ini menyampaikan ceramah dan pidatonya. Ada yg memakai kitab, ada yang selalu membawakan syair lagu dakwah keislaman, dan ada juga yang ke arah pengajian tasawuf.

Salah satu ustadznya, yang memang bersuara merdu mendendangkan syair Jawa. Dalam syair ini sang ustadz ingin menyampaikan agar masyarakat meniru teladan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, ketika turun hujan agar membaca doa ‘syayyiban nafia’. Harapannya, agar hujan yang turun adalah hujan yang memberi manfaat. Masyarakat juga diseru agar tidak bertindak mubazir dan menyelaraskan tradisi dengan tuntunan Rasulullah. Syairnya adalah berikut ini:

Udan

Iki ana kabar sangka Siti Aisyah
Garwa Kanjeng Nabi kang faham syariah
Nerangake Kanjeng Nabi Rasulillah
Yen ana udan maca Shayyiban Nafia

Yen tak pikir bener dawuhe Simbah
Ora pareng mbuwak Lombok apa Uyah
Iku ngono mubazir lan ora berkah
Yen suwal dibuwak ora sido nang sawah

Sang ustadz bahkan membagikan copyan syiir itu dibagikan cuma-cuma kepada seluruh jamaah. Syiiran ini dilandasi dari hadits dalam Shahih al-Bukhari, riwayat Sayyidah Aisyah,

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى المطر قال صيبا نافعا

“Dari Sayyidah Aisyah, bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam ketika melihat hujan, beliau berdoa, “Semoga hujan ini adalah hujan yang memberi manfaat.”

Senyatanya, belum pernah kami tahu ada jamaah pengajian rutinan yang diasuh oleh empat ustadz dan berjalan sekian lama. Biasanya di mana-mana cukup dengan satu ustadz, atau maksimal dua.

Barangkali, hal ini ditempuh karena ingin mengakomodasi para tokoh masyarakat, agar semuanya punya kesempatan untk membagikan ilmunya kepada masyarakat. Atau, karena disiplin keilmuan yang beragam, dan agar lebih lengkap maka disajikan semuanya dari perspektif masing-masing. Ada yang suka menerangkan tradisi dan fiqih, ada yang elaborasi akhlak tasawuf, ada yang ke tafsir dan sejarah, dan ada yang ke penjabaran hadits.

Setidaknya sudah empat kali kami ikut mendengarkan jamaah pengajian ini. Yang juga menarik, jamaah ini juga terbuka untuk menyilahkan tuan rumah menampilkan ustadznya atau sekedar memberi kata sambutan, sehingga melengkapi dan menguatkan sinergi yang berketerusan.

Semoga jamaah pengajian ini terus lestari dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Karena walaupun dihadiri kurang lebih empat puluh jamaah (belum termasuk masyarakat sekitar masjid dan mushola), pengajian ini bisa didengarkan masyarakat sekitar, dengan pengeras suara. Jadi, masyarakat yang sekitar di luar mushola dan masjid pun bisa mendengarkan dan belajar agama.

Cerita tokoh masyarakat, dalam suatu Lailatul Ijtima’ NU Ranting Mancar bahwa pola masyarakat Mancar berubah menjadi semakin religius. Dulu jarang mushola, sekarang banyak mushola dan di Mancar ini sudah ada dua pondok pesantren.

Related Posts