Wahabisme Global Vs Islam Indonesia Kosmopolite

Pada Timur Tengah dan jazirah Arab, Barat menemukan Islam penuh tengkar, selisih dan membangun peradaban rongsokan penuh darah tumpah.

Karen Amstrong tak sendiri ketika menyebut bahwa ‘paham Wahabi tidak mewarisi tradisi Islam masa lampau bahkan cenderung membuang dan merusak apa saja yang dianggap tidak sepemikiran. Meski secara politis penguasa Wahabi di negara teluk dan jazirah Arab justru berkawan dengan Amerika dan sekutunya.

Banyak ilmuwan menulis bahwa, paham Wahabi karena sifatnya yang agresif, anti pluralitas dan intoleran telah membuat banyak gaduh—berbagai penelitian menyebutkan, kehadiran Wahabi di berbagai tempat selalu diiringi dengan konflik karena sifatnya yang hegemonik dan anti mapan.

Prof Nazvat Soguk cendekiawan muslim asal Turki menyatakan bahwa ketegangan barat dan islamisme ideologi lebih disebabkan karena watak Wahabisme Global yang berperan sangat siginifikan. Barat memandang Islam sebagai radikal, intoleran dan anti pluralitas ditemukan di negara negara Islam teluk dan jazirah Arab dimana wahabisme dominan dan berkuasa.

Pun dengan ‘ekspansi’ ideologinya ke negara-negara Islam lainnya termasuk migran asal Timur Tengah di Eropa, Amerika dan Australia—yang cenderung ekslusif menutup diri dan melawan budaya lokal—wahabisme global sejatinya membawa budaya Arab bukan Islam. Wahabi yang mengusung purifikasi memang tak sepenuhnya salah tapi juga tak menutup mata ketika purifikasi dipahami tekstual dan hitam putih akan membawa banyak masalah dalam aplikasi dan trajetori-nya yang kaku dan meng-invasi.

Pada paruh awal abad 21, Barat telah dengan benderang bisa memilah antara Islam sebagai agama dan Islam idelogi yang lekat dengan Wahabi yang dipraktikkan di sebagian besar negara Arab khususnya Timur-Tengah minus Turki, adalah sebuah prestasi teramat mahal sekaligus melegakan .

Sebaliknya pada dua negara Islam besar non Arab: Indonesia dan Turki —Barat menemukan Islam yang toleran—komsmopolit dan menerima pluralitas. Ada harapan besar pada dua negara itu untuk tampil sebagai model negara ‘Islam alternatif’—untuk mematahkan wahabisme global. Meski hampir semua ilmuwan menyebut bahwa wahabisme global hanya sebuah euphoria dan sementara.

Nevzat Soguk, sarjana dalam studi globalisasi dan studi Islam di Universitas Hawaai, menyoroti Turki dan Indonesia sebagai Islam yang lain yang sangat mungkin bakal menciptakan trajektori baru dalam hubungan antara Dunia Islam dan Dunia Barat. Sejarah Islam sebagai agama — untuk tidak mengatakan bukan sebagai ideologi — di dua negeri itu, memberikan warisan yang kaya bahwa Islam sangat kosmopolit dan plural. Warisan sejarah ini masih memiliki peranan penting bagi terbentuknya masa depan politik regional dan global.

Selain mewarisi kebudayaan politik dari kekuasaan imperial Usmani yang terbuka, sejarah Islam aktual di negeri-negeri non-Arab juga mewarisi tradisi intelektual Mu’tazilah yang rasional, teologi dan pemikiran filsafat yang memadukan warisan Yunani dan Persia, serta pendalaman spiritual melalui sufisme yang sangat beragam. Islam sangat berpengalaman dalam interaksi peradaban yang mengalami globalisasi sejak dahulu.

Sementara Indoenesia adalah negara Islam besar yang lulus dalam berbagai uji—faktor tradisi sebagai basis keberagamaan menjadi sangat penting dalam menentukan corak Islam yang ditampilkan dan di anuti—moderasi Islam adalah jawaban paling ampuh untuk membingkai Islam dalam konsep utuh yang aktual, modern dan kenyal dengan dinamika global

Indonesia memang menarik—selain karena sumber daya alam dan manusianya yang melimpah juga karena faktor religiusitas yang menawan —orang Indoenesia lebih taat bertuhan dan beragama dibanding negara di mana Islam pernah diturunkan pertama kali—setidaknya Prof Rifklet membuktikan ini.

Related Posts