Zaman Serba Instan

Pada Zaman ini kebanyakan kita lebih suka menanyakan produk/hasil secara instan, bukan proses menjadi produk/hasil. Misalnya apa hukumnya masalah ini atau itu. Mereka tidak bertanya bagaimana bisa jadi begitu atau mengapa jadinya begitu dan untuk apa begitu?

Mungkin jika proses itu ditanyakan, akan panjang dan memusingkan, ruwet.

Jika sudah dijawab hukum dari suatu masalah itu mereka bertanya mana dalilnya?. Ada nashnya tidak?. Jika kemudian dijawab : Nash itu apa? Mereka jawab : teks Al-Quran dan hadits, lalu kita bisa bertanya lagi : nash itu Qathi’ atau Zhanni dilalahnya?. Dengan kata lain : apakah kata-kata Al-Qur’an atau hadits itu bermakna tunggal, atau mengandung alternatif makna. Lalu bagaimana kita mengetahui dengan pasti bahwa kata-kata tersebut mengandung makna tunggal, pasti A atau pasti B?. Apakah kedua teks rujukan utama itu menyatakan sendiri maknanya?.

Jika ada kata perintah, apakah maknanya selalu wajib dikerjakan?. Begitu juga kata larangan (jangan), apakah maknanya selalu haram dikerjakan?.

Kita sudah mengenal begitu banyak pendapat ulama, dari generasi sahabat Nabi maupun generasi sesudahnya atas suatu masalah. Padahal mereka mengambil dalil dari Al-Qur’an dan Hadits.

Perbedaan mereka bukan karena beda ayat yang dijadikan rujukan saja. Bahkan juga atas ayat atau hadits yang sama atau bahkan satu huruf.

Dan dari mana kita mengetahui makna suatu teks al-Qur’an/hadits? Dari terjemahan atau dari guru atau dari kamus?. Atau dari kitab-kitab tafsir?

Masih banyak di antara kita yang mengetahui hanya satu pendapat lalu memutlakkan kebenarannya sendiri sambil menyalahkan atau mensesatkan pendapat yang lain. Sikap itu dilakukan akibat keterbatasan pengetahuan. Orang yang hanya mengetahui satu hal, hampir selalu menyalahkan yang lain dan sebagian menjadi angkuh, sombong.

Mungkin sebagian kita akan mengatakan wah ruwetnya ya memahami teks?.
Lalu harus bagaimana?.

Aku mengatakan : belajar sungguh-sungguh kepada banyak guru kearifan dengan pikiran dan hati terbuka dan rendah hati.

Bandung, 19.01.2020
HM

Related Posts