Bapak Saya Seorang Petani, Saya Banyak Belajar dari Beliau

Ini tanaman bapak saya, cabe rawit. Tanaman sekitar 2500 bibit. Sejak kepulangan saya dari Malang untuk liburan, saya membantu merawatnya. Alhamdulillah, beliau sangat senang sekali anaknya bisa sesekali bisa membantu merawat tanaman-tanamanya, mulai dari menyiram, menyulam bibit yang mati, memupuk, membersihkan hama dan rumput.

Belajar bertani kepada bapak ternyata asyik sekali. Keikhlasan beliau cukup ngenak dalam bertutur dan bernasehat. Mungkin karena dari seorang bapak ke anak. Pancaran sinar hati nuraninya itu terasa banget.

Anggapan selama ini anaknya kuliah di luar kota, takut kepanasan, malu bertani, hidupnya elit, terbantahkan. Di selaยฒ obrolan beliau berpesan, kira-kira klo dibahasakan seperti ini, “nak sedari awal saya ingin sekali menekankan pada kalian berdua (saya, dan kakak), untuk mandiri secara intelektual dan finansial. Harus cerdas dan kaya.

Jangan mengandalkan sumbangan nak, klo mengandalkan sumbangan aktivitas dakwah kamu tidak jalan. Sebab dalam berdakwah untuk kebenaran pasti ada yang iri, dengki, tidak suka, dll”. Dan yang terakhir yang selalu saya ingat dari pesan bapak adalah jangan terlalu berobsesi untuk mengejar reputasi. Secara otomatis orang akan mengakui kita klo kita sendiri tetap Istiqomah ikhlas dalam berbuat baik kepada siapa saja. Pesan ini masih senada dengan pesan almarhum ibu saya dulu.

Apakah bapak saya menyuruh dan menuntut anak-anaknya untuk melanjutkan profesi bertaninya ? Tidak. Tidak sama sekali, bahkan beliau terus berharap anak-anaknya bisa lebih sukses dari bapaknya, lebih mapan ekonomi dan ilmunya. Tapi di sisi lain beliau juga mengingatkan, apapun profesimu, mau pejabat, atau pembisnis handal, atau jadi kiai sekalipun jangan tinggalkan bertani. Karena bertani itu berkah. Begitu pesan bapak saya.

Bapak saya masih lebih suka memanfaatkan alat tradisional-manual dengan sapi untuk membajak sawah. Bukan berarti beliau anti dengan mesin dan teknologi yang sudah berkembang belakangan ini. Tapi beliau sadar bahwa di desa saya mesin bajak masih suka dimonopoli oleh satu orang. Padahal itu bagian dari infrastuktur desa, yang siapa saja bisa menggunakannya. Karena beliau bukan orang apa-apa di desa, beliau lebih memanfaatkan yang ada. Tidak mau menimbulkan masalah, dan polemik.

Bapak saya kadang suka cerdas nasehatin anak-anaknya. Padahal beliau hanya lulusan sekolah yang tidak jelas dulu sekolah apa. Ijzahnya pun tidak ada. Sekolah, mungkin ia. Tapi tidak lulus, itu kemungkinan besarnya. Tapi bertani ia bagi beliau itu harga mati. Bahkan konon pernah dauh, tidak kerja apa-apa sehari, itu membuat beliau tidak enak, gelisah dan bingung. Jadi etos kerja bapak saya itu luar biasa.

Oleh karena pendidikan formalnya tidak jelas, ia lebih memilih mondok ke salah satu pesantren tertua di Sumenep Madura, tepatnya di karay Ganding. Itu juga pilihan yang diambil bapak dulu. Ternyata pendidikan pesantren ini yang banyak membentuk kepribadian bapak saya dan memulai benih-benih perjuangan. Mulai dari disuruh bertani oleh kiainya, mengelola sawah, kadang juga berternak. Ini salah salah pendidikan pesantren untuk santrinya agar kelak bisa bertanggungjawab. Bukan tujuan mengeksploitasi untuk kepentingan kiainya sendiri. Tidak, kata bapak saya. Tapi lebih kepada mencari barakah dari kiai. Ini penting sekali.

Karena itu, saya jadi ingat salah satu perkataan menarik, entah dari siapa saya lupa, “klo ingin mendapatkan, tebarkan, dan klo ingin menerima, berikan”. Mungkin prinsip ini yang dijadikan referensi dan pegangan bapak selama hidup bertani. Menebarkan benih tanaman, dan memberikan bibit ke bumi.

Ilustrasi foto: bapak saya yang pakai topi atau tangguk (dalam bahasa Madura) dan yang berkopiah hitam memegang cangkul tetangga yang membantu bapak saya membajak tanah.

Sumenep 15 Februari 2020

Moh Syahri

Related Posts