Debat Nasi Goreng: Santri Tekstual dan Santri Kontekstual - Atorcator

Debat Nasi Goreng: Santri Tekstual dan Santri Kontekstual

Nah, begitulah kira-kira. Sesudah itu aku menyampaikan pandangan/pernyataan bijak Imam al-Ghazali dalam bukunya: “Ihya Ulumiddin” yang sangat terkenal.

فاعلم ان من زعم ان لا معنى للقرآن الا ما ترجمه ظاهر التفسير فهو مخبر عن حد نفسه وهو مصيب فى الاخبار عن نفسه ولكنه مخطئ فى الحكم برد الخلق كافة الى درجته التى هى حده ومحطه بل الاخبار والاثار تدل على ان فى معانى القرآن متسعا لارباب الفهم. .

Ketahuilah orang yang mengklaim bahwa tidak ada pemaknaan al-Qur’an yang benar selain makna lahiriah/harfiahnya, maka dia sedang mengabarkan tentang keterbatasan pengetahuan dirinya. Tentu itu benar pernyataan itu untuk dirinya sendiri. Tetapi dia keliru jika pemahaman dirinya itu yang terbatas itu dipaksakan kepada orang lain. Banyak sekali hadits Nabi dan pernyataan para sahabatnya yang menunjukkan bahwa makna teks Al-Qur’an itu sangat luas bagi mereka yang memiliki pengetahuan”.

Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Nabi mengatakan :

من اراد علم الاولين والاخرين فليتدبر القرآن وذلك لا يحصل بمجرد تفسيره الظاهر”.( الاحياء 1/289).

“Siapa pun yang ingin memeroleh pengetahuan para ulama masa lalu dan yang mutakhir maka hendaklah dia merenungkan (makna-makna) Al-Qur’an. Dan hal itu tidak bisa diperoleh hanya dengan mengetahui makna literalnya”. (Ihya, juz I hlm. 289).

07.02.2020
HM

komentar

Related Posts