Gus Solah dan Cerita Kepedulian pada Masalah yang Mendera Ummat

Sugeng tindak guru dan pembimbing kami. Saya berhutang ilmu dan pelajaran tentang organisasi dari orang yang sangat terbuka dan egaliter seperti panjenengan Gus Solah. Meski tak selalu dalam sikap yang sama dalam melihat berbagai persoalan. Anda tetap membuka ruang dialog dan diskusi bagi anak muda seperti saya. Sebagaimana dialog. Kadangkala keras, kadang hangat. Namun dari sanalah kami saling belajar dan berbagi persepektif melihat persoalan.

Saya masih ingat, saat kita mendiskusikan polemik perjuangan pegunungan Kendeng. Beliau memanggil saya dan meminta agar ada segera delegasi santri dari pesantren yang turut memberi dukungan pada perjuangan ibu-ibu Kendeng. Demikian juga saat terjadi konflik horizontal penolakan Syiah di Sampang dan di Puger Jember. Pagi-pagi sekali, beliau memanggil saya untuk segera mengambil sikap soal konflik Sampang. Bahkan segera mengutus saya membuat pernyataan pers dan membawa dua bus rombongan santri memberi dukungan pada warga Syi’ah korban konflik Sampang yang diungsikan di Sidoarjo.

Saya tahu. Memberi dukungan pada warga Syi’ah adalah sikap beresiko, yang akan mengundang dikritik bahkan hujatan dari kanan kiri. Tapi beliau tetap melakukannya. “Kalau untuk kebenaran jangan ditunda”. Demikian Gus Solah mengingatkan saya dengan nada keras. Bahkan tak hanya itu. Beliau juga mengumpulkan para kiai dan santri untuk mendiskusikan konflik Sampang. Kenapa peristiwa tersebut harus terjadi? Apakah ini jalan tasamuh, tawazun, tawasut dan ta’addul nya para santri? Demikian beliau membuka pertanyaan kritis di depan para kiai dan santri yang hadir di lantai 2 gedung KH. Yusuf Hasyim.

Pernah suatu ketika. Saya dan kawan-kawan jaringan menggelar bedah buku pledoi Tajul Muluk seorang ustadz korban konflik Sampang di pesantren Tebuireng. Ruangan di penuhi tak hanya santri, tapi juga para intel. Sesaat selesai acara diskusi. Beliau memanggil saya. Di meja makan. Tak dinyana beliau bilang, “tadi ada orang yang bilang kalau sampean itu seringkali off-side. Belain komunis, ikut urusan Kendeng, dan sekarang bawa masalah Syi’ah di pesantren”. Terus pripun Gus. Pangapunten kalau saya banyak salahnya. “Ah biasa saja.. ya saya bilang. Namanya juga anak muda. Kalau nggak begitu bukan anak muda namanya”. Padahal saya dan tentu saja Gus Solah tahu bahwa semua itu atas restu dan bahkan prakarsa beliau. Makanya kami berdua hanya senyum-senyum saja.

Sekali lagi. Dalam banyak hal kami berdebat dan berseberangan. Apalagi kalau bahas soal 65, kami sangat bersemangat. Bisa berjam-jam. Beliau berbasis ingatannya di saat peristiwa itu terjadi. Saya berbasis data riset dan temuan banyak organisasi. Namun jangan salah. Beliau orang yang mengizinkan saya untuk membuat nobar film Jagal di dalam pesantren dengan para santri senior, dengan syarat tidak dipublikasikan ke luar. “Boleh. Tapi jangan dibawa keluar. Biar tidak memicu polemik yang tidak perlu” kata beliau memberi ijin.

Namun ada yang menarik ketika beliau bilang, “Gus Dur, Gus Dur. Saya, saya”. Gara-gara saya pancing sikap beliau soal 65. Beliau sendiri mengakui bahwa tak seberani Gus Dur. Tapi juga bukan berarti penakut. Ini soal cara untuk menyelesaikan konflik. Memang tidak senekat Gus Dur. Tapi beliau adalah pejuang yang berani mengambil posisi. Berani mengambil sikap. Kisah soal Kendeng dan Sampang adalah sedikit cerita kepedulian beliau pada banyak masalah yang mendera umat.

Percakapan terakhir kami, beberapa bulan lalu, di waiting room saat menunggu pesawat ke Surabaya dari Soeta Jakarta. Kami mendiskusikan banyak hal dan lagi-lagi kami masih tidak satu pandangan dalam beberapa hal. Tapi beliau masih berkenan membuka dialog, memberi maaf dan memberi pandangan lain pada saya yang jauh lebih muda dari beliau.

Damai di sana pak Kiai kami. Orang tua kami. Engkau telah menjadi teladan hidup bagi kami para santri. Kepergianmu adalah kehilangan besar bagi kami.

Related Posts