Kewajiban Orang Tua yang Sering Terabaikan

“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. (HR Bukhari juz 1, hal. 215)

Kehadiran anak di tengah-tengah keluarga merupakan dambaan setiap pasangan suami isteri. Kecepatan kehadiran anak ada yang sangat dinantikan, karena orangtua sudah memiliki kesiapan yang memadai. Namun ada juga yang lebih cepat daripada yang dikehendaki. Yang demikian itu lebih cenderung atas kehendak Sang Kholiq. Ragam kondisi awal kelahiran anak inilah yang biasanya menyebabkan perbedaan kesetiaan orangtua dalam menunaikan kewajiban dalam mendidik anaknya.

Kewajiban orangtua dalam menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak adalah suatu amanah yang tidak bisa diabaikan. Untuk mewujudkan tanggung jawab orangtua terhadap anak ada sejumlah kewajiban orangtua yang sering terabaikan. Pertama, kewajiban mendidik anak dengan benar. Semua orangtua wajib mewujudkan tanggung jawabnya dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Namun pada kenyataannya tidak semua orangtua mampu tunjukkan kewajiban ini, karena orangtua sibuk dengan pekerjaannya. Yang tidak hanya ayahnya saja, melainkan dewasa ini juga ibunya. Akibatnya pengasuhan dan pendidikan cukup dipercayakan kepada pembantu maupun Child Care. Orangtua hanya memiliki waktu terbatas. Di sinilah kualitas waktu pertemuan antara anak dan orangtua menjadi penting.

Kesibukan apapun orangtua dalam mengasuh dan mendidik harus bisa diupayakan langsung, walaupun itu tidak mudah. Dengan terlibat langsung dalam mengasuh dan mendidik anak, orangtua bisa menjaga dan melindungi makanan dan minuman serta kesehatan anak. Bahkan menanamkan nilai-nilai keagamaan dan moralitas serta kehidupan sejak dini. Kelalaian orangtua dalam mengasuh dan mendidik sejak dini bisa berdampak pada kecacatan atau kelainan fisik, emosi, pikiran, sosial, dan moral. Kondisi ini seharusnya bisa dihindari.

Kedua, mencarikan tempat pusat pengasuhan dan pendidikan anak. Hampir semua orangtua menginginkan anaknya dalam pertumbuhan dan perkembangan awalnya berjalan baik. Namun pada kenyataannya, karena kesibukan orangtua tidak sedikit orangtua kurang peduli dan serius untuk mencarikan tempat pengasuhan yang baik dan pendidikan anak yang sesuai dengan kondisi dan potensi anak serta perkembangan jaman. Akibatnya anak tidak bisa mengembangkan bakat dan potensinya dengan baik. Bahkan bisa juga anak tidak bisa meneruskan kebaikan-kebaikan yang telah dirintis orangtua.

Ketiga, mengarahkan anak mencari teman dan lingkungan pergaulan. Hampir sebagian besar waktu selama masa kanak-kanak dihabiskan dengan hidup bersama teman-teman sebayanya. Kondisi alamiah ini seringkali menipu orangtua, sehingga menjadikan orangtua tidak peduli dengan pergaulan anak-anaknya. Padahal orangtua wajib mengarahkan dan mengontrol pergaulan dan lingkungan anaknya sehingga anak terarah. Ingat bahwa seseorang itu tumbuh dan berkembang tergantung pada teman bergaulnya.

Keempat, mengendalikan anak dalam penggunaan gadget. Dampak kemajuan teknologi informasi harus menjadikan perhatian tersendiri bagi orangtua. Memang kehadiran gadget mendatangkan banyak kebaikan bagi kehidupan. Namun sebaliknya, jika kita tidak bisa menggunakan gadget dengan benar, maka kita akan memperoleh dampak negatifnya. Atas nama kesibukan orangtua, tidak sedikit orangtua mengabaikan pengawasan terhadap anaknya. Akibatnya cukup banyak dijumpai anak yang mengalami kecanduan dalam penggunaan game dengan gudget. Juga terjadi anak mengalami deviansi sosial yang diakibatkan oleh akses info yang tidak tepat untuk kelompok anak di bawah umur.

Kelima, mengawal, mengarahkan dan mengendalikan jodoh untuk anaknya. Kehati-hatian orangtua dalam menjodohkan anak itu baik dalam tradisi hidup kita. Dengan kemajuan jaman, secara perlahan-lahan terjadi pergeseran. Dalam perjodohan anak, semakin banyak dominasi penentu jodoh anak sebagai konsekuensi dari kehidupan yang lebih demokratis dan terbuka. Memberikan kesempatan anak untuk ikut memainkan peran lebih besar dalam penentuan jodoh dewasa ini tidak selalu menuai kebaikan. Akibatnya angka kegagalan berumah tangga cukup berarti. Untuk menghindari kegagalan rumah tangga, memang kehati-hatian dan keterlibatan yang cuku dari orangtua dalam penentuan jodoh tetap penting dan relevan. Semakin banyak orangtua yang tidak ambil posisi yang penting dalam penentuan jodoh anak, diduga kehidupan anak dalam rumah tangganya kurang optimal, karena terbatasnya orangtua dalam memberikan pengalaman baik untuk anaknya.

Demikian beberapa hal penting yang bisa menjadi renungan kita semua, terutama sebagai orangtua, agar bisa memenuhi amanatnya menjaga diri dan keluarga dari ancaman api neraka. Upaya ini bukanlah sesuatu yang mudah diwujudkan, sehingga perlu kebersamaan dan sinergi antara suami dan istri, antara ayah dan ibu serta anak, sehingga keutuhan keluarga dapat terjaga dengan baik secara berkelanjutan. Ingat bahwa mengabaikan kewajiban orangtua terhadap anak menjadi sumber malapetaka bagi semua. Semoga kita menjadi suami dan isteri, atau ayah dan ibu yang baik dan amanah. Aamiin. (Yogyakarta, 06/02/2020, Kamis, pk. 04.59)

Related Posts