Kiai Feodal, Feodalisme Kiai

Saya baru saja sowan ke salah’ satu kiai muda tapi konsistensi perjuangannya membela masyarakat lemah tak diragukan. Di mana-mana orang paham bahwa sebutan Gus dan Kiai hanyalah status sosial. Keberpihakan adalah komitmen sosial. Setelah sampai di sana, ndalem beliau, saya bertemu layaknya santri dan kiai. Tapi justru saya disuruh pulang, kamu klo seperti ini kamu nanti sungkan menyampaikan uneg-uneg kamu, anggap saja saya teman ngobrol kamu, kata beliau. Kiai yang sangat egaliter. Ini pelajaran penting bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Tapi ini juga pilihan, sebab tak sedikit juga kiai yang masih menjaga kewibawaannya dengan cara mereka sendiri.

Jelas, Gus ataupun Kiai adalah pelayan rakyat, pengayom masyarakat dan memang seharusnya merakyat (dalam tanda kutip), mencerdaskan ummat. Ia juga sebagai referensi akan setiap tindakan sosial. Selain itu ia juga sebagai pemimpin, tidak terbatas pada pemimpin agama, tapi juga pemimpin politik dan aksi keberpihakan sosial. Karenanya perannya sangat sentral dalam kehidupan masyarakat.

Transformasi pesantren dan juga masyarakatnya sulit berkembang, karena masih terhambat feodalisme kiai atau kiai yang feodal. Dan nauzubillahnya lagi sebagian masih menolak masyarakat yang membawa permasalahan yang sangat penting untuk diselesaikan. Heran juga, kenapa ini bisa terjadi. Padahal seharusnya Gus atau kiai tidak hanya pandai dan piawai dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan spiritual, tapi harus mencakup dari segala aspek sosial. Jangan sampai intelektual-intelektual pesantren hanya menjadi pendekar bagi dirinya sendiri, tapi tidak bisa menjadi pendekar bagi masyarakat.

Memang tidak bisa serta merta peran Gus dan Kiai ini bisa diharapkan perannya dapat mengubah keadaan. Mereka punya dunia masing-masing. Kebanyakan dari mereka memang lebih memilih ada di zona nyaman, dan aman. Sama sekali tidak terlatih untuk berpihak kepada masyarakat yang terpinggirkan. Ironisnya mereka lebih menjaga untuk tidak kehilangan popularitas dan reputasinya daripada keluar membela kebenaran dengan terus dicibir orang. Padahal sejatinya kiai harus menjadi simbol perjuangan, dan sebisa mungkin menjaga jarak dari struktur kekuasaan demi obyektifitas perjuangan dan keberpihakan. Sayangnya, juga banyak yang masih menjadi ekor kekuasaan.

Karena sudah tidak bisa berharap lebih kapada mereka, maka membangun solidaritas itu penting dan niscaya. Kalaupun suatu saat ia sadar dengan berada di bagian masyarakat melarat dan tertindas, anggap saja itu fragmen-fragmen biasa, yang mungkin bisa juga menjadi amunisi dan kekuatan. Sebab membangun solidaritas itu harga mati untuk memperjuangkan kebenaran dan keberpihakan kepada masyarakat lemah.

Salam dari anak petani, selamat berjuang. Salut dengan kiai yang satu ini di Jember. Barakallah

Sumenep 15 Februari 2020

Moh Syahri

Related Posts