Kisah Pangeran dan Tuan Putri Dalam Whatsapp (II)

Setelah perjuangannya melawan keragu-raguan, pangeran memberikan penguatan terhadap hatinya. Dengan segenap rayuan, doa dan berusaha mematahkan keputus-asaan.

Begitu pula tuan putri, terus saling membangun keyakinannya pada sang pangeran. Tanpa terasa, satu bulan telah berlalu. Semenjak perang batin dengan tuan putri usai.

Perang antara keyakinan dan keputus-asaan. Mana yang akan segera kunjung memuncak. Saat-saat yang menentukan hubungan dua sosok pasangan di masa depan.

Seiring berjalannya gencatan senjata, pak de dan bu de (sebutan dua pasangan ini pangeran dan tuan putri) membangun sebuah perjanjian. Janji komitmen membangun satu rasa yang tidak boleh ada pihak ketiga di antara mereka.

Dibuatlah dari secarik kertas berisikan agenda harian mereka berdua. Sekaligus dilengkapi dengan suatu target pencapaian pada bulan-bulan tertentu. Misalnya, jualan sandal ukir.

Meski ada satu teman lain yang merasa khawatir dengan bangunan cinta keduanya, shohib tidak mau ambil pusing menanggapi cuitan satu teman.

Sebut saja dayat. Dia bertannya kepada Mus: “aku ragu dengan hubungan mereka!”

Mus balik bertanya “emang kenapa?”

Seakan titin tidak yakin dengan shohib! Jawab mus dengan wajah yang tidak yakin juga.

Mus tidak yakin dengan pernyataanya dan balik menanggapi: “apapun yang mereka lakukan, biarlah mereka yang bersuka-duka.”

Barangkali hanya usaha yang manusia lakukan. Memiliki rasa cinta itu takdir, jadi biarlah mereka yang mengusahakan. “cukup sepatah atau dua patah kata doa, dan peruntukkanlah kepada mereka, pangkas Mus.”

Satu pemikiran dengan Mus, pangeran yang sedang asyik melukis pada secarik kertas, tidak menggubris. Lantas menutup kedua telinga dengan headset, Suatu usaha cerdas untuk tidak mendengarkan cuitan Dayat.

Sambil mengerutu dalam batin, shohib melanjutkan lukisan kata berjudul “Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Kelas 9 MTs.” Karena pada waktu itu ada tugas take home sebagai syarat nilai uas keluar.

Setelah usai ujian akhir semester, pada hari Rabu tanggal 22 Januari 2020, Shohib berkunjung menuju rumah tuan putri. Lebih tepatnya, calon mertua. Untuk apa? Tentu bayar dimuka.

Keberangkatannya pun tanpa ada kabar kepada teman-teman lain. Meski seperti itu, mungkin itu adalah sebuah kejutan pangeran untuk teman-temannya. Terutama Dayat yang ribut urusan hubungan orang lain.

Tidak perlu dikabari pun akan datang saatnya undangan dibagi. Nanti setelah lulus kuliah. Akhir cerita, meski cinta itu takdir dan menikah itu nasib (kata Sujiwo Tejo). Tidak lantas menggilas ‘usaha’ untuk terus mencintai. Karena takdir itu tidak datang seperti ketika kita menunggu hujan.

Related Posts