Kisah Shalawat 100x Sebelum Tidur

Dahulu kala. Ada salah satu pelancong yang mendatangi suatu daerah. Biasa, seperti kebanyakan turis. Banyak masyarakat yang bertanya: “Sampeyan asalnya dari mana?”. “Ini baru saja melancong dimana?”. “Setelah ini mau kemana?”.

Ketika ia menjawab, “Anu, saya dari daerah itu”. Spontan mereka kaget. “Ha?! Daerah itu? Bukankah itu daerah rawan? Daerah bahaya?”. Terlebih ketika yang diberitahu kelihatan adem ayem. Seakan blass tidak takut hewan melata maupun buas, atau hal membahayakan lainnya. Masyarakat semakin semangat menakut-nakutinya dengan kisah se-horror mungkin.

Yang di bully hanya mencep. Dengan datar, ia berkata: “Aku tau apa yang kulakukan, kok”

“Heeee???” takjub mereka. “Kok bisa?!” clebung salah satu masyarakat.

“Ekhem! Jadi gini … Dulu aku melakukan perjalanan dagang bersama rombongan. Ditengah perjalanan. Kami tahu, banyak pencuri yang mengendap-endap mengikuti kami hingga tenda peristirahatan di dirikan. Aku cemas dan ingin berjaga hingga pagi. Tapi, ada salah satu kawan yang shalih, ahli ibadah dan suka begadang membisikiku: ‘Tenang! Bacalah shalawat kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wasallama seratus kali. Lalu tidurlah! Insya Allah aman!’. Aku percaya perkataannya dan langsung merebahkan badan, tidur.

Menjelang pagi. Tiba-tiba ada orang yang berteriak membangunkanku.

Suaranya memelas: ‘Oe, bangun, Mase. Banguuuunnn’.

Kaget aku, kutanya dia, ‘Siapa sampeyan?’.

Tidak menjawab siapa. Tapi malah merengek, ‘Inilo … Inilo …inikan perbuatanmu? Ya kan? Ya kan? Lho, inilo. Kamu yang membuatku macet begini kan? Iya kan? Huu … hu … huuu …’. malah nangis.

‘Apa? Kamu kenapa?’ tanyaku juga bingung.

‘Noh lihat. Hartamu menyedot tanganku. Tanganku nempel tidak bisa dicabut. Huuuuuuaaaaaa’

Dan ternyata, kulihat tangan pencuri itu menempel dibuntalan bekalku. Maksudnya ingin mengambil beberapa pakaian dan hartaku. Tapi ketika tangan sudah dimasukkan buntalan. Ia tidak mampu mengeluarkannya. Lalu membangunkanku.

Lha akupun juga bingung. Kemudian mencari karib yang memberikan ijazah shalawat tersebut untuk “melunturkan” ilmu yang diberikannya. Kasihan! Si pencuri itu terlihat kesakitan.

Namun dia malah berkata: ‘Ya, Sampeyan lah yang lebih layak mendoakan agar tangannya bisa terlepas’.

Akupun mendoakan semampuku. Alhamdulillah tangannya terlepas. Yang paling kuingat. Tangannya menjadi hitam legam, karena seakan ada benda yang mencengkeram kuat menghentikan aliran darahnya.”

—-

Mungkin begitu inti kisah Imam Daamiri dalam Hayatul Hayawan bab al-Hammah yang mengutip dari kitab an-Nasaaih, kalau yang mengisahkan saya (Banyak latar belakang dan tambahannya wkwk). Tapi semoga bermanfaat. Shallu Alan-Nabiy.

Wallahu A’lam bis-Shawaab.

Related Posts