Level Pemalsuan Naskah Kitab ala Pendaku Salafi

Pemalsuan (tahrif) naskah adalah tindakan tercela, tapi bukan berarti tak ada yang melakukannya. Sebagian pendaku salafi telah melakukan hal ini pada karya ulama klasik yang dianggap bertentangan dengan ideologi mereka. Dalam melakukan pemalsuan naskah ini, pendaku salafi mempunyai level yang berbeda-beda seperti berikut:

Level 1:
Menulis naskah asli ulama tetapi memberi catatan kaki bahwa yang demikian adalah tidak diutamakan sambil menyodorkan alternatif yang menurutnya lebih baik. Level ini masih belum disebut pemalsuan tetapi hanya menumpang menyisipkan akidah pribadi mereka dalam karya ulama klasik dengan cara yang agak halus.

Level 2:
Menulis naskah asli ulama tetapi memberi catatan kaki bahwa yang demikian adalah tidak disyariatkan alias haram. Level ini masih belum disebut pemalsuan tetapi menumpang menyisipkan akidah pribadi mereka dalam karya ulama klasik dengan cara yang kasar.

Seharusnya mereka membuat karya sendiri saja atau membuat karya bantahan secara khusus daripada mengotori karya orang lain dengan pendapat pribadi yang bertentangan dengan penulis aslinya. Yang seperti ini banyak sekali terjadi dan bisa mempengaruhi pembaca yang tidak tahu bagaimana pendapat ulama tentang topik tersebut. Bisa dibilang bahwa yang seperti ini termasuk pemalsuan ajaran.

Level 3:
Mengganti naskah ulama klasik dengan kata yang sesuai dengan seleranya, tetapi masih mengakui pemalsuannya di catatan kaki. Ini adalah level pemalsu yang masih punya sedikit kejujuran ilmiah. Unik juga, mengubah naskah secara sengaja tetapi mengakuinya tanpa merasa malu.

Level 4:
Mengganti naskah ulama klasik dengan kata yang sesuai dengan seleranya sendiri tanpa sedikit pun keterangan. Ini level pemalsuan sejati.

Contoh pemalsuan di tiap level bisa dilihat dalam gambar-gambar kitab Aqidah as-Salaf Ashab al-Hadits karya Syaikh Abu Utsman as-Shabuni (373-449 H). Naskah aslinya berbunyi “ziarah ke kubur Nabi” diganti dengan “ziarah ke masjid Nabi”.

Related Posts