Mengimani Sifat Allah Sebagaimana Allah Menyifati Dirinya Sendiri

Pernyataan yang menjadi judul tulisan ini diklaim oleh beberapa pihak. Maksudnya adalah iman pada seluruh sifat yang disampaikan Allah dan Rasul tentang sifat-sifat Allah tanpa sedikit pun melakukan “takwil” atau melakukan bahasan yang tak dibahas oleh Allah dan Rasulullah. Tujuannya menerima nash apa adanya tanpa sedikit pun ada yang dipahami secara majazi.

Untuk melakukan ini, mereka memberikan embel-embel seperti.: “secara hakikat”, “sesuai dhahirnya” atau “dengan Dzat-Nya”. Embel-embel ini menjadi semacam penegasan bahwa mereka tak mau melakukan takwil apa pun pada pernyataan yang ada dalam al-Qur’an dan hadis sahih.

Namun, benarkah semua yang mengklaim demikian lantas konsisten dengan klaimnya bahwa ia mengimani nash apa adanya? Mari kita uji dengan menerapkan embel-embel mereka pada pernyataan-pernyataan berikut yang seluruhnya merupakan pernyataan al-Qur’an atau hadis sahih.

1. Embel-embel “dengan Dzat-nya”

– Allah di langit dengan Dzat-nya
– Allah di langit dan di bumi dengan Dzat-nya
– Allah bersama manusia di mana pun manusia berada dengan Dzat-nya
– Allah dekat dengan orang yang berdoa dengan Dzat-nya
– Allah lebih dekat dari urat leher dengan Dzat-nya
– Allah di menara pengawas dengan Dzat-nya
– Allah turun ke langit dunia setiap malam dengan Dzat-nya
– Allah di depan orang shalat dengan Dzat-nya
– Allah lebih dekat daripada leher tunggangan dengan Dzat-nya

2. Embel-embel “secara hakikat/sesuai dhahirnya”

– Allah di langit secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah di langit dan di bumi secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah bersama manusia di mana pun manusia berada secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah dekat secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah lebih dekat dari urat leher secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah di menara pengawas secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah turun ke langit dunia setiap malam secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah di depan orang shalat secara hakikat/sesuai dhahirnya
– Allah lebih dekat daripada leher tunggangan secara hakikat/sesuai dhahirnya

Seluruh kalimat di atas adalah nash sharih yang ada di al-Qur’an dan hadis hanya saja ditambah embel-embel seperti di atas. Namun, bila kalimat itu disodorkan pada orang yang mengaku mengimani sifat Allah sebagaimana Allah menyifati dirinya sendiri, maka kemungkinan besar akan banyak yang menolak.

Mereka akan menyanggah dan memberikan penjelasan-penjelasan agar kalimat di atas tidak terkesan kontradiktif. Misalnya dengan mengatakan bahwa Allah di langit secara hakikat tetapi kalau di bumi secara ilmu saja. Penjelasan semacam ini justru tidak mengimani apa adanya karena bersifat tebang pilih. Padahal Nabi Muhammad sama sekali tak pernah menerangkan seperti itu apalagi mengajarkan tebang pilih. Bila konsisten, tentu harus menetapkan embel-embel itu secara merata pada semua pernyataan Allah dan Rasulullah atau sama sekali tak perlu memberikan embel-embel seperti itu.

Dalam al-Qur’an dan hadis, embel-embel seperti itu tak dikenal. Bila menganggap embel-embel itu penting untuk mencerahkan umat agar tidak sesat, maka kenapa Allah dan Rasulullah tak menjelaskannya? Mengapa Allah dan Rasulullah tak pernah sekali pun menjelaskan untuk tebang pilih antara “nash langit” dan “nash bumi” di mana “nash langit” harus tanpa takwil sedangkan “nash bumi” harus ditakwil/ditafsir?

Bila ini dipahami, maka kita tahu bahwa semua embel-embel di atas justru menyalahi klaim mengimani semua nash apa adanya. Jadi, bila ada yang berkata:

“Kita imani bahwa Allah di langit tanpa bertanya bagaimananya dan tanpa membahas bahwa kalau di langit maka konsekuensinya begini begitu. Cukup kita imani saja apa adanya, titik.”

Maka dia perlu dites dengan berkata:

“Dan kita imani bahwa Allah bersama kita, lebih dekat dengan urat leher, di depan orang shalat dan di menara pengawas tanpa bertanya bagaimananya dan tanpa membahas bahwa kalau begitu maka konsekuensinya begini begitu. Cukup kita imani saja apa adanya, titik.”

Bila dia menerima perkataan itu, maka beres. Tapi bila dia malah protes panjang lebar, maka itu berarti dia tak konsisten dengan ucapannya sendiri. Bila dia beralasan mengikuti “salaf”, maka apakah artinya dia tak mengikuti Allah dan Rasulullah sebab pernyataan yang dia tebang pilih adalah pernyataan Allah dan Rasulullah sendiri? Bila dia mengaku ikut Allah dan Rasulullah, maka di ayat mana dan hadis mana yang persis seperti klaimnya yang tebang pilih itu? Di sini pasti dia tak bisa menjawab kecuali dengan jawaban abstrak alias tak jelas dan berputar-putar tanpa ujung.

Related Posts