Pancasila itu Secangkir Kopi Pahit

Pancasila adalah sebuah konsepsi yang lahir dari rahim bumi pertiwi. Adanya pancasila menjadi sebuah terowongan (bukan terwongan toleransi itu loh ya) bagi semua golongan untuk bisa bertemu dalam satu titik sinergitas memperjuangkan tujuan bangsanya yang berisi berbagai macam suku ada di dalamnya.

Mereka semua sepakat, menjadikan pancasila sebagai sebuah bentuk ideologi final untuk bisa bersatu.

Sebelum berbentuk menjadi teks yang tercantum dalam konstitusi negara, pancasila telah mewujud pada kehidupan sosial masyarakat dan suku-suku yang ada di Indonesia. Terbukti dengan adanya kata-kata yang ada pada kitab Sutasoma karangan empu tantular yang bunyinya tidak asing dalam telinga kita: “Bhineka tunggal ika”.

Sehingga perdebatan pancasila yang tengah terjadi dan pasti akan terus terjadi, seharusnya tidak disikapi dengan perilaku negatif yang tidak bijaksana.

Apalagi mau membenturkan Pancasila dengan Agama. Aduh itu jelas membuang-buang waktu dan tenaga, cuk.

Apalagi menganggap Pancasila sebagai Agama. Aduh, aneh sekali itu.

KH. Hasyim Muzadi pernah dawuh begini :

“Pancasila bukan Agama tetapi tidak bertentangan agama, Pancasila bukan jalan tapi titik temu atas banyak perbedaan jalan, beda agama, suku, budaya dan bahasa hanya pancasila yang bisa menyatukan perbedaaan tersebut”

Pancasila itu seperti kopi pahit bagi mahasiswa aktivis atau bagi peronda malam yang menjaga keamanan kampungnya.

Di atas, meja diskusi, para mahasiswa aktivis bisa bahkan menjadi sebuah keharusan melontarkan wacana-wacana yang ada dalam pikiran mereka. Beradu argumen, merekontruksi ide-ide yang ada di kepalanya lumrah ada di meja diskusi.

Secangkir kopi hitam adalah sebuah penghangat dan penetralisir suasana agar tidak dingin juga tidak menjadi panas suasana yang terjadi di meja diskusi. Apalagi kalau ditambah dengan sebatang rokok yang terus berputar untuk bisa di joini. Pancasilanya pancasila.

Di pos ronda, juga demikian. Kopi pahit bukan cuma menjadi penjanggal mata agar kuat berjagandi malam kelam.

Sambil bermain kartu remi atau bermain catur dengan konsekuensi yang kalah mendapatkan hukuman aneh seperti mulai dari duduk jongkok atau mencorat-coret muka, lagi-lagi kopi pahitlah yang menjadikan tempat mengembalikan segala yang tengah terjadi. Kembalikan semuanya kepada kopi pahit.

Oh ya. Kopi pahit menjadi sebuah represantasi paling mudah untuk dicontohkan dari bubur ayam. Sumpah!.

Lah iya, wong kaum bubur ayam saja hingga detik ini masih berdebat bagaimana cara makan yang paling enak kok mau dicontohkan dalam pembahasan pancasila. Lah yo keblinger toh!

Whuoo kalau saya jelas sebagai salah satu penikmat bubur ayam juga, saya lebih suka menikmati bubur ayam dengan mencampurnya. Ini harga mati.

Jadi jelas ya!

Related Posts