Refleksi Hari Lahir Nahdlatul Ulama : Semangat Generasi Muda NU

Nahdlatul Ulama’ sebagai salah satu organisasi sepuh dan sesepuh di Indonesia memiliki peran yang tidak sederhana. Orang tua sekaligus pembimbing bagi bangsa dan negara Indonesia.

Organisasi yang lahir lebih dulu sebelum Indonesia ini, menjadi kakak yang terus berjalan bersama. Men-tetah seorang adik yang sama-sama lahir dari ibu pertiwi.

Sembilan puluh empat (94) tahun berlalu, ormas yang identik dengan ijo-ijo, bertambah umurnya. Hampir satu abad semenjak Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan kawan-kawannya mendirikan.

NU yang lahir pada 1926 M, telah mengalami masa ‘pahit’ pasca kelahiran atau kemerdekaan Indonesia. Berjuang keras melawan kekhawatiran bersama sang ibunda yang telah mengandung Indonesia lebih kurang setengah abad.

Dengan segenap persatuan, perjuangan dan doa, membuahkan hasil ‘manis’ yang tidak sia-sia. Indonesia merdeka di tahun 1445 M, ditandai dengan pembacaan proklamasi presiden pertama, Bpk Ir. H.Soekarno pada hari Jumat, 17 Agustus.

Pada momentum harlah kali ini, mari kita para pelajar NU, mahasiswa, santri atapun yang lain, untuk melanjutkan langkah dengan tegap. Melangkah melalui anak-anak tangga. Berproses dengan prosedur-prosedur, sanad keilmuwan.

Indonesia membutuhkan anak muda. Generasi yang akan saatnya menggantikan yang tua-tua. Begitu juga dengan NU. Bagi siapapun yang merasa berjiwa NU, struktural dan/ kultural, mengemban moral untuk melanjutkan pergerakan organisasi tercinta ini.

Sudah tentu anak-anak muda yang kreatif, progresif dan aktif di segala sektor masing-masing. Segala bidang kehidupan yang seharusnya diisi oleh kader-kader muda Nahdlatul Ulama’.

Alhasil, semoga pada harlah kali ini dapat mendorong semangat yang terbarukan. Menjadi refleksi jiwa kader kebangkitan ulama’ dan penerus an-biya’. Merubah mind-set ‘menunggu barokah diatas sajadah,’ berubah menjadi kader penggerak dalam suatu bagian roda pemerintahan dalam bidang perekonomian, utamanya.

“Yang kita harapkan konglomerat mengangkat kelas menengah. Kelas menengah mengangkat kelas kecil. Para kelas kecil membuka lebar-lebar bagi para buruh,” tegas Kyai Said dalam pidatonya di harlah NU ke-94.
Di tengah hiruk pikuk jiwasraya dan sebagainya, NU terus berusaha maju di garda terdepan, menggandeng bangsa dan negara Indonesia. Dengan adanya masyarakat mandiri dan otonom. Maka, negara menjadi kuat dan bermartabat.

NU Mandiri, Indonesia Bermartabat.
Selamat ulang tahun NU yang ke 94

Related Posts