Tokoh Muhammadiyah Kelas Kampung

Suatu saat Saya akan datang lagi mencium tangannya dan minta doa berkah darinya —-kang Saudji tak seglamor rektor atau direktur pada amal usaha prestisius—ia hanyalah seorang marbot sekaligus imam masjid Muhammadiyah di kampung.

Kang Saudji— muadzin sekaligus imam merangkap marbot masjid Muhammadiyah Baitussyukur Ngantang Kabupaten Malang Jawa Timur. Namanya tak pernah disebut saat pidato meski sekedar untuk ucapan terimakasih —pemuliaan apalagi penghormatan. Kang Saudji juga bukan bagian dari yang terima amplop atau uang transport lainnya—aku masukkan uang 100 ribu di saku bajunya ia tersenyum, kemudian dimasukkan ke kotak amal saat pulang.

Hari itu dari perjalanan, saya berhenti untuk shalat dzuhur berjamaah__ dan saya pasti milih masjid Muhammadiyah —bukan yang lain, meski harus menempuh jarak yang agak lumayan jauh, tapi demi Persyarikatan tak mengapa, ini bagian dari jihad membesarkan Persyarikatan dengan cara shalat berjamaah di masjid sendiri.

Kami hanya bertiga meski masjidnya besar—tapi Shalat duhurku terasa spesial karena di imami oleh Kang Saudji, tokoh Muhammadiyah yang sudah puluhan tahun malang melintang—orangnya sederhana, bekerja serabutan sebagai tukang gali sumur, tukang panjat pohon kelapa kadang kuli angkut pasir. Tapi tugas sebagai tukang adzan dan imam shalat rawatib tak pernah telat—

Bukan alumni universitas terkenal apalagi deret gelar—hanya Tamatan Sekolah Rakyat, dan tidak bisa bahasa Melayu—bukan pengguna Gadget dan tidak pernah terpapar hoax karena tidak menjadi anggota grup wa manapun—dan tak pernah diundang dalam perayaan atau peresmian apapun.

Profil Kang Saudji memang menarik—ada banyak paradoks di Persyarikatan paling modern ini, setelah sehari sebelumnya saya membaca pidato luar biasa Prof Din di Al-Azhar dengan bahasa Arab dan Inggris yang fasih dan narasi pidato yang mengguncang—

di kampung tempat aku singgah, juga ada tokoh Muhammadiyah kelas kakap yang tak kalah prestige, Kang Saudji yang kukuh menjaga, membersihkan dan memastikan adzan tetap berkumandang lima kali di masjid—

Ini hari istimewaku bertemu ulama Muhammadiyah dari berbagai kelas—sayang aku lupa mencium tangannya dan lupa minta doa berkah darinya —semoga lain waktu ada bersama lagi —-

Aamiin 🌹🌹🌹😍🙏

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts