Wafatnya Ulama Hancurnya Alam - Atorcator

Wafatnya Ulama Hancurnya Alam

الأرض تحيى إذا ما عاش عالمها
متى يمت عالم فيها يمت طرف
كالأرض تحيى إذا ما الغيث حل بها
وإن أبى عاد في أكنافها التلف

Bumi akan makmur lestari apabila para ulamanya hidup. Ketika para ulama telah wafat, maka bumi dalam kebinasaan.

Laksana bumi yang terguyur air hujan ia akan tumbuh subur. Jika tidak, maka bumi dalam kehancuran.

Tembang syair Ahmad bin Ghazal di atas cukuplah mengambarkan alasan kenapa kita wajib bersedih dan berbela sungkawa sedalam-dalanya atas wafatnya ulama? Karena ulama adalah benteng kokoh umat Islam, pasak dan paku gaibnya bumi. Wafatnya ulama berarti robohnya benteng Islam dan tercabutlah penguat-penguat bumi. Maka tidaklah berlebihan bila penulis katakan:

موت العالم موت العالم

“Wafatnya adalah hancurnya alam semesta”.

Hanya pengikut-pengikut Iblis (orang-orang kafir dan munafik) yang tidak pernah maresa sedih atas wafatnya ulama sebagimana yang disampaikan Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far ra: “Kematian ulama lebih dicintai iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Ibnu Abbas ra dan Mujahid ra saat menafsiri firman Allah ﷻ:

أَوَ لَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-Ra’d: 41) mengatakan bahwa yang dimaksud (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) hancurnya bumi disebabkan wafatnya para ulama, ahli fikih dan orang-orang baiknya (Tafsir Ibnu Katsir 4/472)

Rasulullah ﷺ menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran
yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ

“Ambillah (Pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama)” (HR Ad-Darimi, At-Thabrani No 7831 dari Abu Umamah).

Lalu kenapa bumi akan hancur binasa kerena kepergian para ulama? Karena ketika para ulama telah tiada maka tinggal orang-orang bodoh yang menyebarkan kesesatan menyesatkan

Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra berkata: Aku telah mendengar Rasululullah ﷺ bersabda:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يُبقِ عالماً، اتخذ الناس رؤوساً جهّالاً، فَسُئلوا، فأفتَوا بغير علم، فضلوا وأضلوا (متفق عليه).

“Sesungguhnya Allah ﷻ tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah ﷻ tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (Muttafaqun Alaih).

Bahkah wafatnya para ulama adalah di antara syarat-syarat datangnya hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم، ويثبت الجهل (متفق عليه).

“Sesungguhnya di antara syarat-syarat dari (datang) hari kiamat adalah hilangnya ilmu dan tetapnya kebodohan” (Muttafaqun Alaih).

Said bin Jabir ra pernah ditanya:

ما علامة الساعة وهلاك الناس؟ قال: إذا ذهب علماؤهم.

“Apa tanda-tanda hari kiamat dan kehancuran manusia?”. Beliau menjawab: “Wafatnya para ulama mereka”.

Abdullah bin Mas’ud ra dengan kata-kata indah berpesan:

عليكم بالعلم قبل أن يرفع، ورفعُه هلاك العلماء

“Tekunlah kalian dengan (mencari ilmu) sebelum ilmu itu diangkat (hilangkan) dan hilangnya ilmu (disebabkan) wafatnya ulama”

Kendatipun telah banyak kyai ulama yang telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama adalah sebuah musibah dalam agama, maka harapan kita adalah lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Amin

Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib:

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه

“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya” (Ihya Ulumiddin I/15).

Wallahu A’lamu

komentar

Related Posts