Ayo Menulis, dan Menulis

Kenapa harus menulis? karena goresan pena lebih abadi dan ucap lidah kerap tidak jelas lalu hilang seperti musim.

Aku teringat pada sosok Abu ‘Amr al-Jahizh yang tidak dikenal oleh lisan, saat menulis tentang buku dan pena. Beliau bersendung dengan indahnya hingga membangkitkan selaksa kenangan dari tidurnya. Huruf-huruf dan aksara berterbangan membentuk rasi-rasi bintang mengulang kembali taram-temaram keindahan abad purnama masa silam:

الْقَلَمُ اَبْقَى أَثَراً وَاللِّسَانُ أَكْثَرُ هَدَراً

لَوْلاَ الْكِتَابُ لَاخْتَلَّتْ أَخْبَارُ الْمَاضِيْنَ

وَانْقَطَعَ أَثَرُ الْغَائِبِيْنَ

وَاِنَّمَا اللِّسَانُ شَاهِدٌ لَكَ وَالْقَلَمُ لِلْغَائِبِ عَنِ الْكِتَابُ يُقْرَأُ بِكُلِّ مَكَانٍ وَيُدْرَسُ فِى كُلِّ زَمَانٍ

Jejak goresan pena lebih abadi

Suara lidah acap tak jelas

Andai tak ada buku

Tak lagi ada cerita masa lalu

Dan terputuslah jejak

mereka yang telah pulang

Kata-kata hanyalah untuk yang hadir

Pena untuk yang tak hadir

Buku dibaca di segala ruang

Dikaji disegala zaman

Jauh sebelum Abu ‘Amr al-Jahizh menulis tentang puisi buku dan pena al-Imam as-Syafi’i sudah lebih dulu menulis puisi tentang ilmu dan tulisan. Dua bait puisi Beliau mampu menginsprisi Ahmad bin Hanbal muda menulis ribuan hadist dan kata-kata yang tidak kalah indannya “Minal Mihbarah ilal Maqbarah” dari tempat mangsi hingga mati. Mendorong al-Imam Bukhari dan al-Muslim menulis kitab as-Shahihain. Mengilhami Abu Hamid Muhammad al-Ghazali menulis Ihya’ Ulumiddin. menggugah Abu Zakariya Muhyiddin an-Nawawi menulis al-Majmu’ dan memberi semangat Jalaluddin as-Suyuthi melunis 300 judul karya yang berbeda serta ulama lain dan aneka karya:

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang

Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,

إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ

“Apabila engkau mendengar sesuatu (dari ilmu) maka tulislah walaupun pada dinding.” (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu no.146).

Related Posts