Kisah Bayi-Bayi Istimewa yang Sudah Fasih Bicara di Buaian Ibunya

Penulis: KH Lukman Hakim Husnan, (dosen STIQ Al-Lathifiyah Palemban)

Dalam Mafatih al-Ghaib, Imam Al-Razi menunjukkan bahwa sejumlah sekte Nasrani menyangkal kenyataan Nabi Isa pernah yukallimun naasa fil mahdi, alias berbicara pada saat beliau masih bayi (di buaian ibu), seperti disebut dalam QS. Ali Imran ayat 46. Buat mereka, hal yang seperti ini sangat musykil, kalau bukan mustahil.

Untuk itu, Imam Al-Razi menyanggah dengan menyatakan, kurang lebih, “amat wajar kalau kaum Nasrani tidak mempercayai itu. Mereka toh tak pernah melihatnya secara langsung. Mereka toh mengimani Nabi Isa, dan kemudian menuhankannya, hanya kelak sesudah beliau dewasa.”

“Akan halnya argumentasi bahwa mereka tidak pernah mendengar kabar seperti itu sebelumnya, maka itu juga wajar. Sebab tentu saja, informasi tentang bahwa Isa pernah berbicara sewaktu masih bayi akan segera disembunyikan oleh musuh-musuh beliau; para Yahudi yang membikin insinuasi kotor terhadap Ibunda Maryam. Demikianlah, Al-Quran kembali mengungkap fakta itu.”

Menurut tradisi Islam, setidaknya terdapat 8 (delapan) sampai 9 (sembilan) bayi yang dipercaya mampu berbicara layaknya orang dewasa. Dalam Shahih Muslim, Nabi Saw diriwayatkan bersabda, “Lam yatakallam fil mahdi illa tsalatsah; Isa ibn Maryam, wa Shahib Yusuf, wa Shahib Juraij.” (Tidak ada yang mampu bicara selagi bayi selain tiga; Isa bin Maryam, Bayi yang menjadi saksi bagi Nabi Yusuf saat dituding berlaku tidak senonoh, dan Bayi yang dituduh sebagai anak hasil zina dari seorang ahli ibadah bernama Juraij)

Sementara itu, dalam riwayat lain (misalnya riwayat Ibn Abbas), konon Nabi menyebut empat nama. Imam al-Qurthubi, dalam al-Jami’ li Ahkam al-Quran, sempat mengutip riwayat al-Dhahak yang menunjuk enam bayi: (1) Isa ibn Maryam; (2) Yahya ibn Zakariyya; (3) Bayi Masyithah; (4) bayi Yusuf; (5) bayi Juraij; dan (6) Bayi Jabbar.

Seperti kata Imam al-Qurthubi, yang belum disebut dalam riwayat al-Dhahhak adalah bayi shahibul akhdud, yang bisa kita sebut sebagai bayi ketujuh. Lalu yang kedelapan adalah bayi dari seorang ibu bani israil yang saat melihat seorang lelaki gagah lalu berdoa, “Ya Tuhan, jadikan anakku ini seperti dia”. Bayi di buaiannya pun seketika menengok ke arah si lelaki, dan tetiba mengeluarkan suara, “Ya Allah, jangan jadikan aku penguasa zhalim seperti lelaki itu.”

Last but not least, bayi kesembilan adalah tentu saja, Nabi Muhammad Saw. Beliau, setidaknya menurut sejarawan Al-Waqidi dalam Sirah-nya, juga disebut pernah membuat percakapan pada saat berada di buaian ibu Halimah. Saat itu beliau berucap, “Allahu akbar kabiraw wal hamdu lillahi katsiraw wa subhanallahi bukrataw wa ashila.”

Pertanyaannya, apakah hari-hari ini, ketika kemukjizatan telah surut, masih ada bayi-bayi dewasa macam yang telah disebut?

Ada. Masih.

Al-Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi berteori tentang bahwa sejumlah bayi memang bisa saja memperoleh limpahan hikmah. Sesuatu yang dialami oleh Bayi Isa dan Bayi Yahya, misalnya, adalah sekaligus pembuktian bagi jenis pengetahuan dzauqi, yang tidak bermula dari penalaran dan atau pemikiran. Jenis yang belakangan hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang dewasa.

Tidak jauh-jauh, sang Syaikh mencontohkan apa yang ditemuinya pada putrinya sendiri yang, sayang sekali, meninggal pada saat masih sangat belia. Bayi yang kemudian diberi nama Zainab ini konon bahkan sanggup mendoa ‘yarhamukillah’ saat ibunya bersin, padahal pada saat itu ia masih di dalam kandungan. Peristiwa ini disaksikan oleh banyak orang.

“Saat usia kurang lebih setahun, di tengah-tengah pengajian umum, aku pernah bertanya kepada Zainab, yang waktu itu berada di ayunan ibunya.

‘Hai anakku perempuan, apa yang mesti dilakukan seorang lelaki yang bersetubuh dengan istrinya tapi tak sempat mengeluarkan sperma?’

Zainab ternyata menjawab, ‘Ia wajib mandi junub’.”

Hakadza Qoola Al-Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arobi.

Related Posts