Nabi Samuel dan Kesaktian Shalawat

“Pada suatu hari aku memasuki sebuah hutan rimba, jauh aku melangkah hingga aku tersesat di dalamnya. Tidak lama kemudian aku bertemu dengan seseorang, dia menarik tanganku dan berkata:

“Ayo ikutlah bersamaku! Akan aku tunjukkan jalan keluar dari hutan ini”.

Aku pun berjalan mengikutinya dan ternyata dia tidak sendirian. Ada seseorang yang sejak tadi menemaninya. Lalu bertanya pada orang itu:

“Siapa nama Tuan?” Dia menjawab: “Aku Khadir, Abu al-‘Abbas bin Isya (dalam satu versi bin Malkan) dan ini temanku, dia adalah Ilyas bin Sam”.

Aku terkejut mendengarnya, sekaligus bahagia bisa dipertemuankan Allah ﷻ dengan dua manusia yang dikaruniai hidup abadi hingga akhir masa.

“Apakah Anda berdua pernah melihat Nabi Muhammad ﷺ? Tanyaku memberanikan diri.

Mereka berdua menjawab: “Iya! Saya pernah bertemu dengan Beliau”.

Dengan kemulian dan kuasa Allah ﷻ, sudikah Anda berdua menceritakan padaku suatu yang berharga yang pernah kalian berdua dengar dari Nabi Muhammad ﷺ sehingga aku bisa meriwayatkan sesuatu dari Anda berdua?” Pintaku pada mereka berdua.

Salah satu dari mereka berdua menjawab: “Kami pernah mendengar dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

ما من مؤمن صلى على محمد ﷺ إلا نضر قلبه ونوره الله عز وجل وفي نسخة: نضر الله قلبه ونوره

“Tidaklah seorang mukmin bershalawat pada Nabi Muhammad ﷺ kecuali Allah ﷻ akan menarangi dan menyinari hatinya”.

•✿❁✿•

Selanjutnya salah satu dari mereka berdua bercerita: “Dahulu, kaum Bani Israil memiliki seorang Nabi bernama Samuel as yang dikaruniai kekuatan besar oleh Allah ﷻ mengalahkan musuh-musuhnya.

Pada suatu hari Nabi Samuel as berangkat menghadapi musuh-musuhnya yang berkata: “Orang ini (Nabi Samuel) adalah seorang penyihir. Ia datang hendak mengelabui kita, mencerai beraikan pasukan kita. Maka mari kita ajak ia bertempur di pantai”.

Nabi Samuel as memenuhi tantangan itu, Beliau membawa serta 40 sahabat Beliau menuju pantai. Sahabat–sahabat Nabi Samuel bertanya, “Apa yang harus kita lakukan? Bukankah pasukan kita jauh lebih sedikit dari mereka?”.

Dengan mantap Nabi Samuel as berkata, “Maju, dan bacalah “Shallallahu ‘ala Muhammad”

Mereka pun menuruti nasehat Nabi Samuel as, maju dengan membaca shalawat pada Nabi Muhammad ﷺ. Meski pada mulanya jumlah mereka kurang berimbang dibanding pasukan musuh, namun akhirnya pasukan Nabi Samuel as berhasil memukul mundur mereka sehingga mereka terdesak ke laut dan tenggelam ditelan ombak.

Al-Khadir as berkata: “Kejadian itu nyata Kami saksikan sendiri”.

•✿❁✿•

Kami pernah mendengar Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

من صلى على محمد ﷺ طهر الله قلبه من النفاق كما يطهر الثوب الماء

“Barang siapa bershalawat pada Nabi Muhammad ﷺ, Allah ﷻ akan mensucikan hatinya dari sifat kemunafikan sebagaimana air dapat mensucikan baju”.

•✿❁✿•

Kami pernah mendengar dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

ما من مؤمن يقول صلى الله على محمد ﷺ إلا أحبه الناس وإن كانوا أبغضوه والله لايحبونه حتى يحبه الله عز وجل

Tidaklah seorang mukmin mengucapkan “Shallallahu ‘ala Muhammad” kecuali Allah ﷻ akan membuat semua manusia mencintainya walaupun mereka (manusia) sedang membencinya. Demi Allah ﷻ, tiadalah mereka (manusia) mencintainya sehingga Allah ﷻ mencintainya.”

•✿❁✿•

Kami pernah mendengar dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

من قال صلى الله على محمد ﷺ فقد فتح على نفسه سبعين بابا من الرحمة

“Barangsiapa yang mengucapkan, “Shallallahu ‘ala Muhammad”, akan dibukakan ke atas dirinya tujuh puluh pintu dari rahmat”.

•✿❁✿•

Salah satu dari mereka bercerita lagi: “Pada waktu itu telah datang seorang lelaki dari negeri Syam menemuai Nabi Muhammad ﷺ, kemudian dia berkata: “Wahai Utusan Allah ﷺ! Ayahku adalah seorang yang sudah tua, dan dia ingin melihatmu”.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Bawalah dia bertemu denganku”.

Dia menjawab: “Sesungguhnya, penglihatannya sudah rusak!”.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Katakanlah kepadanya, Ucapkanlah pada tujuh malam “Shallallahu ‘ala Muhammad.” Maka, dia akan melihatku di dalam mimpi, sehingga dia dapat meriwayatkan hadits daripadaku.” Maka dia (ayah dari lelaki itu) pun melakukannya, dan telah melihat Nabi Muhammad ﷺ di dalam mimpi, kemudian meriwayatkan (hadits) dari Nabi Rasulullah ﷺ.

•✿❁✿•

Dan Kami pernah mendengar dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

اذا جلستم مجلسا فقولوا : بسم الله الرحمن الرحيم وصلى الله على النبى محمد ﷺ، يوكل الله بكم ملكا يمنعكم عن الغيبة حتى لا تغتابوا ، واذا قمم فقولوا بسم الله الرحمن الرحيم وصلى الله على النبى محمد ﷺ، فان الناس لا يغتابو لكم ويمنعهم الملك عن ذلك.

Bila kalian duduk disuatu majlis (perkumpulan), maka ucapkanlah: “Bismilahirahmanirahim dan Shallallahu ‘ala Muhammad.” maka Allah mengutus malaikat untuk mencegah kalian dari berbuat ghibah (menggunjing orang lain) hingga kalian tidak berbuat ghibah dan ketika kalian berdiri (dari majlis) ucapkanlah: “Bismilahirahmanirahim dan Shallallahu ‘ala Muhammad.” maka manusia (orang-orang di majlis itu) tidak akan menggunjing kalian dan malaikat yang akab mencegah mereka dari hal itu.

Waallahu A’lamu

Burneh, Ahad 1 Maret 2020 M | 6 Rajab 1414 H
_________________________

Kisah ini, diceritakan oleh Syaikh al-Majdi Fairuzabadi nama aslinya Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar, Abu Thahir, Majduddin asy-Syairazi Fairuzabadi (1329 – 1415 M = 729 – 817 H) yang bersambung sanad pada Abu al-Mudhaffar as-Samarqandiy lengkapanya Muhammad bin Abdullah bin al-Khiyam as-Samarqandiy.

Imam Sya’rani mengatakan: Guru kami, yakni ‘Ali Al-Khawwas telah berkata: “Hadits ini dan yang sebelumnya, yakni sabda Nabi : “Keadaan paling dekat denganku bagi seseorang daripada kalian ialah apabila aku disebut, dia bersolawat ke atasku”. Kami meriwayatkannya dari sebahagian Al-‘Arifin,dari Al-Khidir , dari Rasululloh shollallohu alaihi wasallam, dan keduanya di sisi kami adalah sohih, pada setinggi-tinggi derajat keshahihan, walaupun tiada ditetapkan oleh para ahli ilmu hadits, kerana kesulitan istilah-istilah mereka. Hadist ini juga dikuatkan oleh apa yang telah dinukil oleh Al-Hafiz As-Sakhawi dari Majduddin Al-Fairuzabadi, pemilik Al-Qamus,dengan sanadnya yang sampai kepada Al-Imam As Samarqandi.

Sumber:

📖 Sa’adu ad-Daraini fi as-Sholati ala Sayyidi al-Kaunaini| Daru al-Kutub al-Ilmiyah| Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy| Halaman 154.

📖 Afdhalu ash-Shalawat ala Sayyidi as-Sadat| Daru al-Kutub al-Ilmiyah| Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy| Halaman 37.

Related Posts