Belajar dari Mahbub Djunaidi

Pertama-tama selamat harlah buat PMII ke 60 tahun ini. Tokoh PMII banyak sekali yang dikenal luas publik, salah satunya Mahbub Djunaidi. Mahbub Djunaidi kita kenal sebagai seorang pendekar pena. Komunikasi melalui tulisannya sungguh luar biaaa. Beliau mampu menyampaikan ide dan gagasan yang cerdas, memukau, dan tak jarang bikin gemes dan tertawa pembacanya. Siapapun yang membaca tulisannya akan termanggut-manggut.

Dalam hal ini, penggalan tulisan beliau yang kemudian dimuat oleh Said Budairy, tokoh PMII juga, menarik kita baca. Tulisan ini berkaitan dengan bangsa Maritim

“Aku akan bahagia bila kau punya cita-cita yang tinggi menggantung di bintang, nak,” kata seorang ayah kepada putranya. Sang anak mengangguk-angguk.

“Tambah senang lagi aku jika bintang-bintang itu bergantung di kakimu.” Sang anak kembali mengangguk-angguk sambil menarik nafas panjang

“Pokoknya tinggi sekali. Nak, jangan cuma punya cita-cita kerja di Timur Tengah. Masa dulu kita terkenal bangsa ‘kuli sekarang terkenal bangsa ‘babu? Perkara cita-cita itu terlaksana atau tidak, itu soal lain. Itu sangat tergantung pada kondisi pada saat kau besar nanti. Orang tua tidak tahu persis apa yang bakal terjadi tahun depan. Rencana sih boleh-boleh saja. Lagi pula kamu bukan ahli ‘masa depan’, bukan ‘futurolog’,” kata si bapak.

“Mahluk apa futurolog itu, Pak?”

“Pokoknya semacam dukun juga, tapi keluaran sekolahan. Kata orang golongan ini amat dihormati di luar negeri. Di sini kurang mendapat sambutan, soalnya dukun-dukun biasa dianggap sudah cukup memadai.”

“Kembali ke pokok bicara, cita-cita apa yang kamu pilih? Seperti juga Pemilu, cita-cita itu bebas. Mau jadi bahari awan’? Inipun bagus. Syukur-syukur kamu bisa menjadi Menteri Bahari. Berarti, kamu dapat menguasai gelombang dan penduduk dasar laut. Dulu memang orang Inggris yang kuasai gelombang, tetapi sesudah nasionalisme bangkit, mereka lari lintang pukang. Sekarang mereka cukup mondar-mandir pengawal istana Buckingham sambil pakai topi bulu sebesar sarang tawon.”

“Tapi, bukan urusankulah orang Inggris itu. Bagaimana soal bahariawan? Apa ada minat? Kamu dapat tangkap ikan sebanyak banyaknya. Sebab kalau kita bisa halau pukat harimau, kita pun mesti mampu menangkap sendiri ikan-ikan itu, yang di lautan sebanyak-banyaknya yang menjadi tua bangka dan mati karena tutup usia. Bahkan kupikir ikan-ikan itu mencemooh kan kita.”

“Tapi kita kan memang bangsa agraris, Pak?”
“Tidak, kita bangsa bahari. Kolonial yang paksa kita bercocok tanam untuk pasaran eropa barat. Kebun gula merupakan gabus tempat negeri Belanda terapung, tanpa itu negeri itu akan amblas.”

“Baiklah, Pak. Soalnya, di mana sekolahnya? Soalnya, kalau saya melancong dari satu kota ke kota lain, tak pernah lihat sekolah buat jadi bahariawan’ itu. Beda dengan komputer atau konsultan pajak. (Pemikir, 2 Agustus 1992).( Dimuat ulang di Buku, Mahbub Djunaidi, Seniman Politik Dari Kalangan NU modern)

Ditengah arus informasi, dimana dunia dalam genggaman kita perlu belajar kepada seorang Mahbub Djunaidi. Utamanya dalam hal menyampaikan ide dan gagasan yang jernih, cerdas, dan isnpiratif. Serta sarat makna. Semoga, dari PMII muncul-muncul pendekar-pendeka pena baru.

Related Posts