Detik-detik Wafatnya Wali Jadzab Ra Lilur Bangkalan

Kepergian Sang Waliyyullah..

“Sebelum beliau wafat apakah beliau pernah mengeluh sakit ? ” tanya saya kepada Hj. Mus, khodim yang menyaksikan detik-detik meninggalnya Ra Lilur..

“Tidak.. Pada malam itu bahkan beliau masih sempat bercanda bersama kami.. Beliau meminta kami untuk membaca sholawat. Minimal 100 x ”

Di malam itu Ra Lilur memang tiba-tiba berkata kepada Hj.mus dan keluarganya yang ada di Musholla :

“Ayo turun semua.. Sekarang malam terakhir.. Sebagai manusia perbanyaklah membaca sholawat..”

Beliau lalu tidur-tiduran disamping musholla sambil memandang khodimnya dengan senyuman yang begitu indah. Sang khodim tentu heran melihat “gelagat” aneh Ra Lilur itu.

Beliau lalu mengganti pakaiannya , padahal beliau sangat jarang mengganti pakaian di malam hari. Beliau kemudian berkata kepada sang khodim :

“Saya mau tidur ya.. Saya jangan ditinggal.. Jangan kemana-mana..”

“Tumben panjenengan minta saya untuk tetap disini yai ? Biasanya njenengan kan meminta saya untuk keluar ketika mau tidur ? ” tanya khodimnya.

Ra Lilur diam tak menjawab. Beliau lalu rebahan, menselonjorkan kedua kakinya, bersedekap, menarik nafas dua kali lalu menghembuskannya. Hembusan nafas yang ternyata adalah yang terakhir dari Sang Waliyyullah.

Malam itu, sekitar pukul 22:00, Selasa 24 Rajab 1439 H. tidak ada yang menyangka bahwa Ra Lilur wafat. Beliau akhirnya benar-benar “tidur” dan meninggalkan dunia untuk selama-selamanya. Setelah sepanjang hidupnya beliau telah berjuang untuk menjauhi dan meninggalkan gemerlap dunia dengan hati, perilaku dan fikirannya.

Sebuah akhir yang tidak “mengejutkan” untuk sosok seperti beliau. Akhir yang Begitu indah tanpa rasa sakit seakan beliau memang benar-benar berpamitan untuk tidur dan beristirahat sejenak.

Setahun setelah kepergianmu, mudah-mudahan kami masih bisa meniti jejak-jejak luhur yang kau tinggalkan untuk kami disini. Kami hanya berharap, dengan cinta yang setetes ini, pendosa seperti kami kelak masih bisa dipertemukan dan dikumpulkan bersama golongan-mu para kekasih Allah di sana.

Sekali lagi, Allah Yarhamak Ya Siidi.. Wa Yuqoddis Sirrak..

Bangkalan, 25 Rajab, 1440 H.

Penulis: Ismael Amin Kholil, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan.

Related Posts