Karomah Syaikhona Kholil Bangkalan Sudah Tampak di Masa Kecil

Syaikhona Kholil Bangkalan adalah sosok wali masyhur dari Pulau Garam, Madura. Namanya menjadi rujukan santri para jamannya untuk mengaji, menimba ilmu dan kebijaksanaan. Cara Syaikhona Kholil dalam mendidik santri unik dan berbeda-beda dan para santrinya akhirnya menjadi tokph-tokoh besar pada jamannya. Sentuhan tangan dingin Syaikhona Kholil bukan saja diakui ulama’ Nusantara, tapi juga ulama dunia.

Keistimewaan Syaikhona Kholil sebenarnya sudah muncul sejak di masa kecilnya. Saat itu, Kholil muda ngaji di Pesantren Langitan Tuban di bawah asuhan KH Muhammad Nur. Sebagaimana para santri, ketika mau shalat berjamaah, pasti akan menunggu kiainya datang sebagai imam. Bersama santri lainnya, Kholil muda menjadi makmum dan imamnya adalah sang kiai, yakni KH Muhammad Nur.

Di tengahnya khusyu’nya shalat, Kholil muda malah malah tertawa terbahak-bahak sampai tidak karuan. Kontan saja, santri yang lain merasa janggal dan aneh dengan perilaku shalatnya Kholil muda. Selesai sholat, para santri lain marah dengan sikap Kholil muda yang tak sesuai dengan aturan syariat itu. Bahkan, Kiai Nur sampai memanggil Kholil muda untuk menghadap dan “disidang” karena perilakunya yang aneh itu.

Kiai Nur terlihat cemberut melihat kedatangan Kholil muda.

“Wahai Kholil, mengapa pada saat shalat tadi kamu tertawa?Apakah kamu tidak tahu bahwa tertawa dapat membatalkan shalat dan mengganggu kekhusyukan shalat yang lain.” kata Kiai Nur.

“Mohon maaf kyai, waktu shalat tadi saya tidak mampu menahan tawa, karena saya melihat di kepala pak kyai ada tumpeng . Apakah yang saya lihat itu salah kyai,” jawab Kholil muda dengan tenang dan sopan.

Mendengar jawaban santri Kholil itu, seketika Kiai Nur terkejut. Karena apa yang dikatakan santri Kholil itu memang benar adanya.

“Wahai Kholil, yang kamu katakan itu benar nak. Waktu shalat tadi saya sedang lapar dan tak bisa khusyuk karena setelah shalat saya mau menghadiri acara yang kemungkinan akan mendapatkan tumpeng untuk melepaskan rasa lapar saya,” jawab Kiai Nur dengan penuh jujur.

Itulah sosok Kholil muda dan Kiai Nur yang sama-sama jujur dengan apa saja yang terjadi. Guru dan murid ini sosok yang istimewa, karena dari kejujuran itulah lahir sebuah barokah. Kiai Nur sama sekali tidak malu mengakui kejujurannya, bahkan di hadapan santrinya yang masih kecil.

Apa yang disampaikan Kholil muda itu juga tanda-tanda lahirnya karomah yang kelak mengantarkannya sebagai maha guru para ulama’ di Nusantara. Syaikhona Kholil terus dikenang tausiyahnya dan cara mendidik santri oleh para santri dan penerusnya. Semoga berkah Allah mengalir kepada kita semua. Amiiin. (Abu Umar/ di Bagkit Media)

Related Posts