Kisah Ummul Mukminin dan Sofwan bin Muatthal

Suatu hari saat berumur dua belasan tahun, Sayyidah Aisyah tertinggal dari iring-iringan kaum muslimin yang pulang kembali menuju Madinah. Saat mereka pulang, rombongan itu tak tahu bahwa Sayyidah Aisyah yang masih belia itu tak ada dalam sekedupnya karena saat itu ia sedang sibuk mencari kalungnya yang terjatuh. Tampaknya tak ada pengawal yang berani mengecek ke dalam sekedup istri Rasulullah itu sebelum berangkat.

Setelah menemukan kalungnya, Sayyidah Aisyahย kembali ke tempatnya semula dan berharap rombongan itu kembali menjemputnya. Ia pun akhirnya tertidur di tempat itu dan tanpa sengaja penutup wajahnya terbuka. Saat itu ayat yang memerintahkan hijab baru turun setahunan.

Kebiasaan orang Arab saat itu, ketika ada rombongan besar melewati daerah, biasanya ada di antara mereka yang bertugas menyisir kembali rute yang telah dilewati rombongan sebab khawatir ada barang yang terjatuh atau tertinggal tanpa disengaja. Hari itu, yang bertugas menyisir rute adalah Sofwan bin Muatthal, seorang sahabat yang shalih.

Setelah beberapa lama, Sofwan melihat ada sosok berpakaian hitam di kejauhan. Didekati sosok itu dan ternyata ia kaget karena yang dilihatnya adalah Sayyidah Aisyah yang tertinggal dari rombongan. Sofwan mengenalinya karena pernah melihat wajahnya sebelum ayat hijab turun. Spontan ia mengucapkan “Inna lillah wa inna ilaihi raji’un” lalu memalingkan wajahnya dan bergegas memegang tali kekang untanya sebagai isyarat bahwa ia siap mengantar ummul mukminin itu pulang.

Di pihak lain, Sayyidah Aisyah terbangun dengan suara Sofwan yang membaca “Inna lillah” itu dan seketika itu juga menutup wajahnya kembali. Tak ada kata yang terucap antara keduanya tapi ia paham bahwa ada sahabat yang mempersilakannya menaiki untanya untuk diantar pulang. Ia lalu menaiki unta yang dipersiapkan Sofwan itu dan Sofwan pun berjalan menuntunnya. Tak ada sepatah kata pun antara mereka berdua hingga keduanya sampai ke Madinah.

Begitulah cara para sahabat pria memperlakukan seorang ummul mukminin. Para sahabat sangat sungkan untuk sekedar bercakap-cakap dengan mereka. Kalau pun ada kebutuhan, maka itu disampaikan dari balik tirai. Sungkan adalah kata kuncinya ketika berkaitan dengan ummul mukminin.

Related Posts