Lebih Tinggi Mana Antara Orang Tua dan Guru?

Saya banyak membaca pernyataan ulama bahwa guru lebih mulia dari orang tua. Mudah menemukan pernyataan seperti ini di kitab-kitab kita di berbagai tingkatannya. Salah satu alasannya adalah Guru sebagai pengasuh jiwa sedangkan orang tua “hanya” pengasuh badan.

Tapi sampai saat ini, hati saya tak bisa menerima semua itu. Tanpa mengurangi rasa hormat secuil pun pada para ulama yang berpendapat seperti itu, secara dhahir dalil al-Qur’an dan hadis menyebut orang tua sangat spesial melebihi siapa pun selain Allah dan Rasulullah. Kalau pun ada manusia yang lebih spesial dari orang tua, maka itu Nabi Muhammad saja. Ini kalau bicara dalil, lain lagi kalau bicara fanatisme.

Untuk mengiaskan guru di posisi Rasul secara mutlak, maka hati ini sulit menerima sebab perbedaannya terlalu jauh. Tak ada satu pun yang qaulnya diterima secara mutlak kecuali Rasul, ini kaidah yang disepakati seluruh ulama. Selain itu, lumrahnya orang tua juga menjadi guru pertama bagi anak-anaknya.

Tentu saja keduanya wajib dihormati dan sebisa mungkin tidak perlu dipertentangkan. Bahkan biasanya nyaris tak ada pertentangan antara keduanya sebab semua bisa dikomunikasikan dan diraih ridhanya. Keridhaan keduanya adalah bekal maha penting bagi kesuksesan seorang anak didik. Di antara pelajaran saya ke anak-anak yang dititipkan orang tuanya; kalau orang tuamu menyuruh ke barat sedangkan aku menyuruh ke timur, maka selama itu tidak melanggar syariat silakan ikut orang tuamu dan di situlah ridhaku juga. Jadi, tak ada anak yang jadi korban “ancaman barakah”.

Ini hanya uneg-uneg saya pribadi, seorang Abdul Wahab Ahmad yang bukan siapa-siapa dibanding para tokoh yang mengatakan bahwa guru lebih utama dari orang tua. Barangkali ada yang berkenan memberi tahqiq tentang afdhaliyah ini, maka saya senang menerimanya.

Related Posts