Mengenang Detik-detik Wafatnya KH Ma’ruf Irsyad Kudus

Mengenang 10 tahun kepergian Mbah KH Ma’ruf Irsyad (10 Sya’ban 1431 – 10 Sya’ban 1441).

Beberapa hari sebelumnya kami sudah mendengar beliau dirawat di rumah sakit. Namun hari itu, Kamis, 22 Juli 2010, nampaknya lebih kritis. Pada pukul 7 lewat beberapa menit, seseorang melalui microphone memimpin kiriman fatihah dari kantor. Hati para santri bergetar.

Pak Guru pun memulai pelajaran. Memang sudah sering kami mendengar kabar beliau sakit. Banyak pula kabar kesembuhan yang membuat alam bawah sadar memaklumi. Tak ada firasat apapun. Hari-hari akan berjalan seperti biasa.

Waktu itu, aku duduk di kelas X Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus. Bersama teman-temanku, aku mendengarkan Pak Guru menjlentrehkan pelajaran.

Beberapa jam kemudian, sound di kelas kami mengeluarkan suara, seperti micnya baru diangkat dan mengenai beberapa ketukan. Satu kelas pun memasang telinga. Mungkin di kelas-kelas lain pun sama.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun… Telah meninggal dunia KH. M. Ma’ruf Irsyad…” Seketika hati runtuh.

Kebijakan sekolah memulangkan semua santri sebelum waktunya. Tidak seperti sekolah lain yang menyebut peserta didiknya sebagai siswa, di Qudsiyyah mereka disebut sebagai santri.

Aku yang mondok di Pondok Pesantren Raudlatul Mutaallimin (PPRM) Jagalan asuhan KH. M. Ma’ruf Irsyad, berjalan buru-buru. Begitu pula dengan sejumlah temanku yang mondok di pondok yang sama. Kami melewati jalan sempit perkotaan, halaman Menara Kudus, sampai gang pesing dengan getar hati yang semakin menguat.

Tetes-tetes kecil air mata aku usap dengan lengan seragam pramukaku.

Sampai di kamar, beberapa orang menangis. Ada yang membenamkan wajahnya di pakaian yang bercantol. Kebanyakan masih tegar dengan muka datar berusaha melihat kelopak matanya sendiri. Santri-santri segera dikumpulkan di aula.

Kebetulan kamarku berada di lantai 2, dan ndalem kasepuhan berada di lantai 1 dengan serambi yang disebut aula. Di lantai 1 hanya ada 3 kamar santri, sedangkan lantai 2 ada 9 kamar termasuk kantor pengurus.

Setelah wudhu, berganti pakaian, dan berkumpul di aula, kami membaca doa bersama. Semuanya menghadap ke ndalem. “Laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah, laa ilaaha illallah, muhammadur rosulullaah…” Tangis tak lagi terbendung. Ingus keluar membasahi tapak tangan.

Satu per satu tamu datang berdiri di luar sana, ingin ikut mengiringi kepergian almarhum. Sampai sore hari, waktu pemakaman, lautan manusia berjubel memenuhi jalanan. Kiai Ma’ruf memang salah satu kiai terkenal di Kudus dan sekitarnya.

Mula-mula jenazah diiring menuju masjid Menara Kudus untuk dishalati. Aku lebih memilih tidak mendekati beliau karena malas berdesak-desakan.

Banyak fotografer menemukan momen saat keranda jenazah keluar dari masjid itu. Banyak tangan, baik tangan kosong maupun memegang peci, ingin meraih keranda hijau itu. Para penggotong pun pontang-pantingan. Mereka ingin ngalap berkah.

Sementara aku, lebih memilih menonton dari kejauhan. Sampai di makam Sedio Luhur pun, aku memilih menjauhi galian yang telah dikerumuni dinding manusia. Bukan berarti aku tak ingin menyaksikan, namun rasanya dinding itu sulit dijebol.

Ribuan doa terpanjat dari mulut para pelayat. Beliau kiai yang suka hikayat berlumuran nasihat. Bila ngaji selalu giat, sering khutbah Jumat, pidatonya menarik minat. Tak ayal, bila ia dicinta walau badan tak mengandung hayat.

Ziarah Mbah Kyai Ma’ruf

Di bulan Sya’ban ini mestinya ada haul KH. M. Ma’ruf Irsyad, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun, virus korona membuat keadaan tidak seperti biasa.

Dari yang pertama sampai tahun lalu, haul KH. M. Ma’ruf Irsyad dilaksanakan di Masjid Kaujon, masjid jami’ yang paling dekat dengan pondok sekaligus tempat beliau berjuang. Masjid yang tiap sehabis maghrib santri-santri mendengar petuah beliau. Sedangkan tahun 2020 ini, haul akan dilaksanakan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Artinya, akan lebih meriah.

Sebagai seorang perantau, saya sering melewatkan haul beliau. Biasanya bulan Ramadhan baru bisa pulang. Jarak Jombang dan tanah kelahiran lumayan jauh, memakan waktu perjalanan sekitar 8 jam. Tidak bisa mondar-mandir seenaknya. Mengapa Sya’ban dan Ramadhan selalu bersebelahan.

Walau haul dibatalkan, semangat para santri untuk mengingat jasa-jasa beliau masih terasa. Mereka tetap berkirim doa. Kabarnya, ada tahlil online via aplikasi zoom. Tak mau kalah, saya berniat menulis tentang beliau hingga Sya’ban habis. (kalo ternyata ga bisa ya mohon maaf)

Sayyidul Basyar Muhammad saw bersabda, “Barang siapa menuliskan sejarah orang mukmin yang sudah meninggal, maka sama dengan menghidupkaannya kembali. Dan barang siapa membaca sejarah hidupnya, maka seakan-akan sedang menziarahinya.” (Bughyatul Mustarsyidin, 97)

Yang kuingat, sehari sebelum beliau meninggal, ada acara haul Mbah Irsyad, ayah beliau sekaligus pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Mutaallimin (PPRM). Pusat pelaksaan haul biasanya di pondok kulon (yang ada ndalemnya), lalu disambung dengan peringatan isra’ mi’raj (rajaban) yang berpusat di pondok wetan (yang ada aula besarnya). Kedua acara itu berlangsung dalam satu malam. Kiai Ma’ruf menyampaikan mauidhoh dua kali.

Sore hari sebelum malam itu, semua santri dengan mengenakan seragam pondok berziarah ke makam Mbah Irsyad di pemakaman Sedio Luhur Krapyak Kudus. Tidak hanya makam Mbah Irsyad, di sana juga ada makam istri beliau (Mbah Nyai Munijah), serta putra-putra beliau (kakak-kakak KH. M. Ma’ruf Irsyad).

Di hari-hari normal, para santri ziarah setiap Jumat pagi ke makam tersebut. Jaraknya 1 km dari pondok. Setelah menghabiskan waktu di makam Krapyak, mereka berbondong-bondong menuju makam KH. Arwani Amin yang terletak di kompleks Pondok Tahfidh Yanbuul Quran. Petugas yang memimpin tahlil maupun doa dari perwakilan kamar secara bergilir, bukan pengurus maupun guru. Saya sudah mendapat kesempatan tersebut.

Khusus untuk haul Mbah Irsyad, tahlil dan doa dipimpin langsung oleh Kiai Ma’ruf. Yang saya ingat waktu itu, saya jongkok bersama santri lain mengitari makam. Entah saya melamun atau mengapa, tanpa saya sadari Kiai Ma’ruf sudah berada di makam. Seorang pengurus menggelar tikar untuk beliau.

Mungkin momen itu hanya terjadi setahun sekali. Ziarah di makam pendiri, dipimpin oleh pengasuh.

Walau secara nasional Kiai Ma’ruf tidak terlalu terkenal, namun ketika saya browsing, cukup banyak tulisan yang mengulas beliau. Pun di youtube juga banyak rekaman ceramah beliau. Saat saya terhalang untuk menziarahinya, begitulah cara saya berziarah. Kiranya perlu saya menjiplak sabda Nabi, barang siapa membaca sejarah hidupnya, maka seakan-akan sedang menziarahinya.

Lahul faatihah…

Penulis: Hilmi Abedillah, santri KH Ma’ruf Irsyad Kudus, Tulisan selengkapnya bisa dibaca di Bangkit Media

Related Posts