Pahala Tertinggi untuk Korban Covid-19

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan tentang pahala syahid saat terjadinya wabah tha’un

لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ “

“Tidak ada seorangpun yang menderita tha’un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid” (HR. Bukhari no. 5288).

Berdasarkan hadits di atas, menurut Ibn Hajar ada tiga syarat seseorang mendapatkan pahala syahid akibat wabah tha’un. Pertama, berada di daerah yang tertimpa tha’un. Kedua, tidak keluar daerah tersebut karena takut dan menghindar dari tha’un. Ketiga, menghadapi tha’un dengan sabar dan yaqin bahwa segala apa yang menimpa atas ketentuan Allah.

Ibn Hajar melanjutkan bahwa pahala syahid akibat tha’un memiliki tingkatan berbeda, dia berkata

دَرَجَاتُ الشُّهَدَاءِ مُتَفَاوِتَةٌ فَأَرْفَعُهَا مَنِ اتَّصَفَ بِالصِّفَاتِ الْمَذْكُورَةِ وَمَاتَ بِالطَّاعُونِ وَدُونَهُ فِي الْمَرْتَبَةِ مَنِ اتَّصَفَ بِهَا وَطُعِنَ وَلَمْ يَمُتْ بِهِ وَدُونَهُ مَنِ اتَّصَفَ وَلَمْ يُطْعَنْ وَلَمْ يَمُتْ بِهِ – ابن حجر العسقلاني، فتح الباري لابن حجر، ١٩٤/١٠

“Tingkatan pahala syahid berbeda-beda. Tingkatan paling tinggi adalah orang yang memenuhi tiga syarat di atas dan dia mati akibat terkena wabah tha’un. Tingkatan kedua adalah orang yang memenuhi syarat d atas dan dia terkena wabah tha’un namun tidak sampai mati akibatnya. Tingkatan ketiga adalah orang yang memenuhi syarat di atas dan dia tidak terkena tha’un terlebih mati akibatnya”

Pahala yang sangat tinggi seperti disebutkan oleh Ibn Hajar itulah yang memotivasi beberapa sahabat mulia untuk meminta mati syahid akibat terkena tha’un sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad tentang tha’un ‘Amwas

لَمَّا اشْتَعَلَ الْوَجَعُ قَامَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي النَّاسِ خَطِيبًا فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رَحْمَةُ رَبِّكُمْ وَدَعْوَةُ نَبِيِّكُمْ وَمَوْتُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ يَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَقْسِمَ لَهُ مِنْهُ حَظَّهُ قَالَ فَطُعِنَ فَمَاتَ رَحِمَهُ اللَّهُ وَاسْتُخْلِفَ عَلَى النَّاسِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَقَامَ خَطِيبًا بَعْدَهُ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رَحْمَةُ رَبِّكُمْ وَدَعْوَةُ نَبِيِّكُمْ وَمَوْتُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ مُعَاذًا يَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَقْسِمَ لِآلِ مُعَاذٍ مِنْهُ حَظَّهُ قَالَ فَطُعِنَ ابْنُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُعَاذٍ فَمَاتَ ثُمَّ قَامَ فَدَعَا رَبَّهُ لِنَفْسِهِ فَطُعِنَ فِي رَاحَتِهِ

“Ketika wabah merajalela, berdirilah Abu Ubaidah bin Jarrah berkhutbah di hadapan orang-orang dan berkata; “Wahai manusia! sesungguhnya penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doa para Nabi kalian, dan sebab kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Abu Ubaidah memohon kepada Allah untuk mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Lalu dia terjangkit penyakit tha’un (lepra) tersebut sehingga meninggal dunia -semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.- kemudian Mu’adz bin Jabal menggantikan dia untuk memimpin orang-orang, kemudian dia dia berdiri menyampaikan khutbah setelah wafatnya Abu Ubaidah; “Wahai manusia, penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doanya para Nabi kalian dan sebab kematiannya para orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Mu’adz memohon kepada Allah agar keluarga Mu’adz mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Kemudian Abdurrahman bin Mu’adz, anaknya terjangkit penyakit lepra sampai meninggal. Dia pun bangkit memohon kepada Rabbnya untuk dirinya, dan akhirnya dia juga terjangkit lepra di telapak tangannya” (HR. Ahmad no. 1605)

Lalu apakah covid-19 termasuk tha’un sehingga korbannya pantas mendapatkan pahal syahid seperti dijelaskan di atas? Jawabannya adalah iya sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh al-‘Azhim ‘Abadi seorang ulama’ hadits terkemuka dari India

وَالْمُرَادُ بِالطَّاعُونِ الْمَذْكُورِ فِي الْحَدِيثِ الَّذِي وَرَدَ فِي الْهَرَبِ عَنْهُ الْوَعِيدُ هُوَ الْوَبَاءُ وَكُلُّ مَوْتٍ عَامٍّ] العظيم آبادي، شرف الحق، عون المعبود وحاشية ابن القيم، ٢٥٥/٨[

“Yang dimaksud th’aun dalam hadits yang menjelaskan lararang untuk keluar daerah untuk menghindarinya adalah wabah penyakit dan setiap kematian yang berlaku umum”

Tulisan ini tentu tidak dalam rangka memotivasi seseorang untuk berdoa’ seperti Abu ‘Ubaidah dan Mu’adz bin Jabal sehingga dia berharap tekena covid-19 sampai meninggal. Namun tulisan ini adalah bentuk penghargaan tertinggi bagi saudara seiman yang menjadi korban meninggal akibat covid-19 terutama para pahlawan medis yang selalu berada di garda terdepan.

Bagi kita yang sehat tetap harus ikhtiar dan berhati-hati agar tidak terkena virus covid-19 sebagaimana Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menghindari penyakit

وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

“Berlarilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa” (HR. Bukhari no. 5707)

Bagi para korban covid-19 dan keluarga jangan terlalu sedih terlebih meratapi. Karena bisa jadi itu cara Allah menghapus dosa dan memilihkan cara meninggal yang terbaik dengan pahala syahid.

Bagi masyarakat jangan pandang sebelah mata atau aib pada para korban covid-19 terlebih pada para pahlawan medis. Penolakan terhadap jenazah mereka dengan alasan takut tertular sangat tidak rasional karena tentu telah melewati protokol medis yang sudah dijamin keamanannya.

Related Posts