28/05/2020

Balada Mercon di Hari Raya, Cerita Masa Kecil dengan Bermercon Ria

Mulai dari awal puasa hingga hari ini menjelang shalat id dentuman mercon begitu marak di sekitar pondok, tak terkecuali gus-gus kecil yang juga begitu gembira bermerconan. Saya jadi ingat, saya punya cerita unik dan sedikit agak nyebelin soal mercon atau petasan. Bagaimanapun saya pernah jadi anak kecil yang juga sama dengan kebanyakan anak kecil lainnya yaitu hobi main petasan. Di Sumenep Madura biasa disebut “mercon”.

Mercon itu petasan. Yah, di mana-mana mercon itu memang petasan. Tapi petasan sekarang itu bermacam-macam sekarang dengan segala potensi dan perkembangannya, seperti kembang api yang bisa mengeluarkan semacam lampu berwarna-warna yang digemari anak-anak. Saking banyaknya saya tak hafal nama satu persatu.

Dulu pada masa saya kecil, setahu saya mercon cuma ada dua macam. Kertas yang digulung dikasih obat (entah apa namanya) yang jelas obat mercon bukan obat tikus dan dikasih sumbu, kemudian dipantik dengan api sudah bisa meledos. Ukurannya ada yang besar ada yang kecil. Satunya lagi، hampir sama cuma dikasih semacam lidi dan obat (semacam bumbu juga) penerbang.

Sama dengan kebanyakan anak sekarang saya juga pecinta mercon pada masanya, mungkin pas masih kelas MI/SD. Mau hari raya jauh-jauh hari, saya sudah minta jatah uang ke emak untuk beli mercon untuk disumet atau disoled setelah selesai shalat id, mercon kecil yang dibungkus plastik yang harganya dulu cuma 500 perak.

Saking girangnya sampe lupa shalat id. Biasa anak kecil. Orang dewasa senang berhari raya karena merayakan hari kemenangan. Anak kecil senang berhari raya karena ada mercon dan baju barunya.

Nyometlah (nyoled) saya sendirian, sambil lalu serang-serangan dengan tetangga sebelah yang tak kalah keras suara merconnya, dar-der-dor-dor seperti suara main game PUBG dan Free Fire di warnet-warnet.

Di pertengahan main, saya kehabisan mercon. Tentu saya kalah. Tak lihat ternyata ada satu mercon yang belom meledos akibat sumbunya basah padahal sudah saya sumet . Tak parani ke tempat. Benar-benar sial dan berasa suara laknat dari neraka. Belum sampai nyentuh mercon itu, ternyata sudah meledos duluan. Jelas saya jadi korban. Mata saya kenak lutasanya yang bercampur obat mercon yang sialan dan laknat itu.

Tanpa diduga Ibu saya tiba-tiba datang dari masjid. Saya kaget’ dan takut. Saya langsung lari ke kamar mandi, dan langsung selundupkan mata dan kepala saya ke dalam bak mandi karena saking panasnya mata yang membabi buta. Setengah jaman mata sebelah kiri saya tidak bisa melihat. Saya mengurung di kamar mandi nggak keluar-keluar.

Agak mendingan saya keluar. Seperti tidak terjadi apa-apa dengan diri saya. Ibu saya justru berbicara hal lain ke saya. Sama halnya saya, seperti tidak kapok-kapok dengan kejadian itu. Setelah kejadian itu, beberapa menit kemudian bapak saya datang membawa mercon yang sama dan tanpa berbicara sedikitpun langsung dikasih ke saya. Makin gila dan plong. Benar-benar kembali ke hari yang fitri, kembali suci seperti nggak ada musibah apa-apa. Seperti mendapatkan siraman rohani untuk kembali semangat berjuang dalam dunia permerconan.

Mercon ini memang asyik. Tak pernah lekang oleh zaman. Selalu setia menyapa para penggemar setiap tahun, tak terkecuali pada momen dua hari raya dan tahun baru. Lah, mau bagaimana lagi, mercon ini sepertinya memang salah satu ciptaan Tuhan yang tetap eksis mampu menyihir jutaan ummat manusia tak memandang usia. Setiap tahunnya selalu melahirkan generasi baru pencinta mercon.

Bayangkan, di rumah saya bukan cuma anak kecilnya saja yang hobi main mercon, orang tua yang beranak 3 dan cucu 5 masih ada yang hobi main mercon. Ini nyata. Ada tetangga saya. Ganasnya, ada yang sampe berani ngeluarin duit berjuta-juta untuk sekadar berhari raya dengan mercon. Kurang girang apa coba mercon ini.

Di balik hari kemenangan dan kegembiraan hari raya, jangan lupa ada mercon yang yang selalu memeriahkan dan menjadi sponsor setianya.

Tak ada gunanya sebenarnya, dan sudah bosen klo tiap tahun harus sejenak merenung korban jatuh akibat mercon. Lah iya.. nggak ngefek blas.

Misal seperti sekarang di dekat tempat saya tinggal di Malang, ada bapak-bapak yang alisnya ilang karena mercon, terus tak ceritain ke anak-anak kecil sekarang yang suka main mercon dar-der-dor-dor tiap malam.

Apa coba jawabnya “itu kan dulu pak, sekarang tidak, lagian yang selamat lebih banyak kok pak”. Kan ambyarrrrrr. Polisi aja kadang cuma wacana mau memberangus mercon.

Bagaimana dengan kamu, suka mercon juga ? Atau garing-garing aja, sudah jomblo menua bertahun-tahun kok masih garing-garing amat. Hehe

Minal Aidin wal Faizin

Mohon maaf lahir batin

Malang 24 Mei 2020

Moh Syahri

Moh Syahri

Founder Atorator.com  dan Santri Pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep Madura

View all posts by Moh Syahri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *