Catatan untuk Cak Nun yang Terhormat tentang Masalah Baiat

Dalam sebuah ceramah di UGM, Cak Nun yang terhormat mengatakan bahwa jangan mau dibaiat oleh kiai. Silahkan cek di youtube yang sudah saya screenshot (bisa dicek di sini) pada menit 24-26. Sebagai santri yang pernah berbaiat kepada kiai, saya ingin memberi catatan sedikit atas statemen beliau.

Pertama, menurut Ibnu Khaldun, ulama sosiolog kenamaan, baiat secara bahasa adalah perjanjian (al-‘ahdu). Ada baiat dalam bidang perdagangan, bidang politik antar rakyat dan pemimpin, dan bidang spiritual antara umat dan Rasul serta murid dan guru.

Kedua, mari kita teliti teks-teks baiat di bawah ini yang isinya kurang lebih: 1) hakikat baiat adalah komitmen untuk taat kepada Allah yang diutarakan di depan guru. Apabila murid taat pada Allah, maka Allahlah yang akan membalas pahalanya; 2) syaikh bertugas semampunya membimbing murid untuk membersihkan hati dari sifat yang tak terpuji; 3) dalam baiat tidak ada feodalisme, karena seorang murid diperlakukan seperti anak, bukan sebagai bawahan. Syaikh berkata dalam baiat, “Wahai Allah aku menerima murid ini sebagai anak di jalan Allah (qabiltuhu waladan fillah)”. Adapun sikap merendah murid di depan guru bukan feodalisme, namun semata-mata bentuk penghormatan murid pada guru. Jadi, tidak tepat jika beliau menilai baiat merupakan bentuk feodalisme.

Ketiga, baiat bukanlah sarana doktrinasi. Dalam dunia pendidikan modern, baiat tak ubahnya seperti kontrak belajar antara guru dan siswa-siswi agar taat aturan, hanya saja baiat lebih berorientasi pada dimensi spiritualitas dan bukan intelektualitas saja. Guru-guru kami dulu di pesantren tidak pernah mendoktrin. Para guru justru mengajarkan bermusyawarah, bahtsul masail, beradu argumentasi dll. Jika ada kiai yang mendoktrin, mungkin itu hanya sebagian kiai yang fanatik, tetapi tidak semuanya. Kata Cak Nun, di Madura ulama-ulamanya rebutan umat dan suka mendoktrin. Ini namanya generalisasi, nggebyah uyah. Kalau kita mau jujur melihat realitas, di Madura banyak sekali kiai yang sangat terbuka, berwawasan luas, dan tidak doktriner.

Keempat, baiat yang dituduh feodal oleh beliau, dalam sejarah kemerdekaan Indonesia justru memainkan peran sebagai pemantik militansi para pejuang melawan kolonialisme dan feodalisme Belanda. Menurut Pater Carey dan Martin van Bruinessen, gerakan perlawanan tarekat sufi yang dipimpin oleh Diponegoro, Syaikh Yusuf Makasar, Syaikh Abdusomad al-Palimbangi dll tak bisa dilepaskan dari ajaran-ajaran tasawuf, antara lain baiat. Jadi baiat tidak selalu negatif, ia justru punya peran revolusioner.

Ala kulli hal, mari kita berbicara dengan ilmu, dengan referensi, jangan asal menuduh para kiai tanpa dasar yang kuat.

Mari kita lihat dan pahami teks di bawah ini

Nyuwun ngapunten. Wallahu a’lam bishshawab

Related Posts